Coba Saya Tahu dari Dulu…

“Kalau tahu dari dulu bisnis ini sangat potensial, saya buka perkebunan sejak lama saja. Pasti saat ini saya sudah kaya.”

Kalimat itu muncul dari Amir Hamzah, 52, seorang petani buah pepaya di Banyuwangi. Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di Jakarta itu memang baru empat tahun bergumul dengan pacul dan tanah di kebunnya seluas tiga hektar. Meski baru empat tahun menggeluti usaha perkebunan pepaya, Amir tergolong sukses sebagai pemula.

Ia tidak tampak seperti stereotipe petani di Indonesia pada umumnya yang hanya berkawan lumpur dan pacul. Demi melancarkan usahanya, Amir bahkan membuat blog tentang perkebunannya di internet. Blog yang telah berusia satu tahun lebih itu memang ampuh mendongkrak penjualan hasil kebunnya. Alhasil, selain memasok ke pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Amir pun memasok keperluan pepaya segar ke beberapa hotel di Bali. “Awalnya saya suplier buah dan sayuran jadi sedikit banyak saya punya link ke sana. Saya juga tahu permintaan akan buah pepaya cukup besar sehingga saya memilih pepaya untuk ditanam di kebun saya,” ujar pria dengan tiga orang anak ini.

Meski tergolong petani moderen, bukan berarti Amir tak pernah merasakan berada di rimba perkebunan dan penjualan hasil kebunnya. Ia adalah jenis pemimpin yang sekaligus prajurit. Amir kerap berada di barisan depan bisnisnya. “Awal usaha yang saya pikirkan bagaimana mengefisienkan pengiriman buah ke Jakarta, jangan sampai tekor di ongkos. Setelah hitung-hitung untuk mengisi maksimal satu mobil bak terbuka diperlukan lima ton pepaya Jumlah itu hnya bisa dipenuhi dari hasil panen tiga hektar kebun. Makanya, saya kemudian membuka lahan seluas tiga hektar ini,” paparnya.

Selama membudidayakan pepaya seingat Amir dirinya tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Bimbingan, penyuluhan, atau kemudahan-kemudahan lain tak pernah mampir ke perkebunannya. Ia melakukan semuanya sendiri hasil cari-cari ilmu di berbagai tempat, termasuk dari internet dan buku yang menjadi sumber inspirasinya.

Meski tergolong pemain baru di bisnis ini, Amir sudah merasakan asam garamnya. Ia mengeluhkan sistem transportasi, termasuk prasarana seperti jalan raya yang kurang diperhatikan pemerintah. “Kalau saya antar pepaya ke Jakarta dari Banyuwangi itu bisa memakan waktu 24 jam. Kami berangkat setelah panen biasanya pukul empat sore, jam empat pagi kami harus sampai ke Pasar Induk Kramat Jati. Karena jalan banyak yang rusak, kami sering telat juga sampai Jakarta. Padahal daya tahan pepaya tidak lama, hanya satu hari. Kalau sudah begitu saya bisa rugi sampai satu ton pepaya karena busuk,” papar pria yang menghabiskan seluruh jenjang pendidikannya di Jakarta ini.

Karena modalnya terbatas, Amir tidak sanggup mempekerjakan banyak pegawai diperkebunannya. Ia hanya mempekerjakan satu orang penanggung jawab kebun. Semua pekerjaan khas perkebunan seperti penyiraman, pemberian pupuk hingga panen ia kerjakan sendiri dibantu beberapa pekerja borongan. “Semua saya kerjakan sendiri dan pakai sistem borongan. Cara itu mampu menghemat pengeluaran saya,” ujar Amir.

Pria yang beristrikan wanita asli Betawi ini bercita-cita mampu menembus pasar supermarket dan membuka toko buah-buahan sendiri. Hanya saja ia belum mampu mewujudkan cita-citanya itu karena untuk menembus pasar supermarket disadarinya perlu penanganan serius terhadap produknya. Amir mengaku dengan keterbatasan dana dan sedikitnya pegawai ia masih kewalahan jika ingin mengemas produknya agar mampu menembus pasar supermaket.

“Selama ini saya jualan, ya pepayanya tidak dikemas khusus. Cuma dibungkus-bungkus kertas koran. Makanya banyak juga pepaya yang kulitnya cacat ketika sampai ke pasar. Harganya juga jadi turun bahkan tidak ada harganya karena terlalu bonyok.”

Meski perjalannya sebagai petani buah sangat sulit, Amir tidak lekas putus asa. Meski banyak kutipan-kutipan liar di jalan, Amir tetap tegar membawa pepaya hasil kebunnya ke Jakarta. Dengan pengiriman dua hingga tiga kali seminggu ke Jakarta, Amir yakin usahanya akan terus berkembang meski hasilnya tidak selalu menutupi biaya produksi. “Soal tekor itu biasa. Tapi saya selalu berusaha. Coba saya tahu bisnis ini sejak dulu saat masih muda dan modal tidak jadi kendala. Pasti sekarang saya sudah kaya,” tutup Amir optimis. (yst)

Iklan

1 Komentar

  1. […] Blog Justyusti […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s