Kisah Seru dan Haru Pasukan Biru


“Saya langsung tertarik ketika pertama kali ditugasi. Meski sadar resiko kerja menjadi pemadam kebakaran sangat tinggi, saya tetap setia bertugas,” ujar Enjat Sudrajat, 43 tahun, salah seorang Pasukan Biru yang bertugas di Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kantor Sektor II, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Enjat bukan satu-satunya Pasukan Biru yang merasa betah dan tertarik untuk terus menggeluti profesi sebagai pemadam kebakaran. Ia memang “baru” bertugas selama 22 tahun di dinas pemadam kebakaran (DPK). Tak jauh berbeda dengan rekannya, Gunawan, 52 tahun yang “baru” berjibaku dengan panasnya api selama 36 tahun.

Enjat, Gunawan bersama Mislam (43), Herman Setiawan (23), dan Manan Yulmini Klianto (25) tergabung dalam kelompok C yang bertugas di kantor sektor yang sama. Mereka telah merasakan panas dan dinginnya dunia fire fighter. Dari bibir kelima Pasukan Biru itu terlontarlah cerita-cerita menarik dan menggelitik selama mereka bertugas. Di sela-sela waktu piket dan tetap dalam keadaan siaga, mereka meluangkan waktu untuk berbagi kisah kepada Koran Jakarta.

Ketika ditanyai tentang pengalaman pertama mereka ditugasi memadamkan api, jawaban yang keluar dari kelimanya hampir sama. Mereka mengaku merasa antusias sekaligus cemas. “Mungkin karena masih muda jadi begitu bersemangat,” ujar Enjat yang mendapatkan tugas memadamkan kebakaran kecil di perumahan sebagai tugas pertamanya. Rasa cemas karena merasakan hawa panas api yang luar biasa pun sempat menjalari Herman ketika pertama kali ditugasi untuk memadamkan api di pemukiman penduduk di kawasan Saharjo, Jakarta Selatan. Terlebih saat itu Herman masih dalam masa pelatihan di Pusat Latihan Kebakaran, Ciracas, Jakarta Timur.

Namun, justru pengalaman pertama yang memacu adrenalin itulah yang membuat kelimanya “kecanduan” untuk terus bekerja sebagai pemadam kebakaran. Tak terhitung sudah berapa kejadian kebakaran yang berhasil mereka jinakkan selama bertugas. Tapi dari sekian banyak pengalaman mereka menjinakkan api, toh mereka punya pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan.

“Saya paling ingat waktu kebakaran di Pasar Mester Jatinegara dan di Kawasan Industri Pulogadung. Saat itu saya kejatuhan tembok hingga nggak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Karena masih muda dan minim pengalaman, saya tidak tahu tanda-tanda tembok mau roboh ketika panas dari api sudah sangat tinggi. Sedangkan yang di Kawasan Industri Pulogadung itu saya terjebak di lantai dua sebuah pabrik. Di lantai dua gedung itu ternyata ada drum-drum tiner yang akhirnya meledak. Karena terdesak, saya sembunyi di bawah meja. Syukurnya tiner cepat terbakar jadi saya hanya terjilat api saja saat itu. Tidak luka bakar, cuma bulu-bulu di kulit saya hangus,” tutur Enjat runtut mengenai pengalamannya menjinakkan api.

Enjat dan keempat kawannya mengaku tidak lantas trauma bila mengalami kejadian seperti itu. Mereka justru menjadikan itu sebagai pengalaman berharga yang dapat dijadikan pelajaran bagi diri untuk lebih waspada di kemudian hari.

Keluarga mereka pun turut bangga dengan profesi pemadam kebakaran yang mereka geluti. Anak-anak lelaki Enjat bahkan ada yang berminat untuk meneruskan kebanggaan ayah mereka sebagai Pasukan Biru. Kebanggaan dan ketertarikan itu tumbuh sendiri tanpa Enjat ‘kompori’. “Saya cerita apa adanya tentang pekerjaan saya sebagai pemadam kebakaran. Paling mereka jadi terenyuh dan bangga kalau saya pulang piket dengan kondisi lelah setelah memadamkan api. Kadang saya juga cerita keharuan saya ketika bisa membantu orang-orang yang harta bendanya habis dilalap api. Mungkin dari situ anak-anak lelaki saya tertarik mengikuti jejak saya,” urai Enjat.

Kebanggaan serupa juga dialami oleh Herman. Ia awalnya adalah seorang petugas Satpol PP yang telah bertugas selama dua tahun. Diceritakan Herman, saat itu ia hendak meminang kekasihnya untuk dijadikan istri. Namun, niat baiknya itu ditolak mentah-mentah oleh orang tua kekasihnya yang mengetahui bahwa Herman adalah seorang petugas Satpol PP kala itu. “Orang tua pacar saya kan pedagang, punya toko di pasar. Jadi mungkin kurang suka dengan saya yang Satpol PP saat itu. Eh, waktu saya dipindahtugaskan ke DPK 10 bulan lalu, calon mertua saya itu jadi menyetujui pernikahan kami,” ujar Herman sembari diiringi gelak tawa rekan-rekannya.

Diakui para penakluk api itu, kebanggaan sebagai pemadam kebakaran tak ternilai harganya. Mereka merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Meski penghasilan mereka tak sebanding dengan resiko kerja yang harus mereka hadapi, balasan berupa pahala lebih mereka harapkan.

Bagi pemadam kebakaran yang berstatus PNS pendapatan mereka diakui lebih mencukupi dibanding petugas pemadam kebakaran yang statusnya masih kontrak atau PTT (pegawai tidak tetap). Meski tak mau menyebut jumlah pastinya, Enjat mengatakan penghasilan yang ia terima sama halnya seperti PNS lain. “Kalau statusnya PNS DKI pendapatannya lumayan. Kalau PTT pun tidak buruk-buruk amat meski harus menunggu maksimal empat tahun untuk diangkat jadi PNS. Yang kasihan sih yang di luar DKI. Teman saya di Depok itu pendapatannya hanya 900 ribu,” ungkap Enjat yang memiliki lima orang anak itu.

Suka Duka

Kelompok C di Kantor Sektor II Kecamatan Pulogadung termasuk personil yang diturunkan pada kejadian kebakaran Depot Pertamina Plumpang, Jakarta Utara beberapa hari lalu. Meski saat itu status mereka sedang memasuki masa cadangan – tidak sedang bertugas piket di kantor – karena kebakarannya tergolong besar mereka ikut diterjunkan.

Terlontarlah cerita-cerita tak disangka dari mereka tentang kejadiaan malam itu. Contohnya saja ketika kebakaran melanda, Jakarta pun diguyur hujan lebat. Mungkin kita yang berada di rumah akan berucap syukur karena hujan turun dan beranggapan guyuran hujan mampu membantu memadamkan api. Padahal hal itu sama sekali tak diinginkan oleh pasukan Biru yang berjibaku di sana. “Kalau hujan turun terus dengan deras kami jadi khawatir premium di dalam tangki akan meluber. Akibatnya bisa fatal. Api bisa-bisa merambat ke mana-mana dan menyambar tangki di dekatnya,” tutur Mislam yang diamini rekan-rekannya.

Hujan saat itu menambah kesengsaraan mereka. Baju mereka basah total karena selain terguyur air yang digunakan untuk memadamkan juga terguyur hujan deras. Dingin pasti menyelimuti hingga ke tulang mereka. Tak hilang akal, mereka terkadang justru memanfaatkan panasnya kobaran api untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mengeringkan pakaian.

Pada kejadiaan di Plumpang mereka dapat dikatakan berhasil dalam menjalankan tugas. Terlebih melihat potensi meluasnya kebakaran sangat tinggi, namun mereka dapat melokalisasi api hanya di satu titik. Teori yang mereka pahami dan improvisasi mereka gunakan dalam memadamkan kobaran api setinggi 100 meter saat itu.

Tak hanya di Plumpang mereka harus memutar otak dengan cepat mengalahkan cepatnya lalapan api. Pada kasus-kasus lain pun hal yang sama diterapkan. “Kami seringkali harus memutar otak lebih keras saat terjadi kebakaran di satu tempat. Halangannya macam-macam. Dari hilangnya bagian kuningan pada hidran sampai kurang kerja sama dari pihak warga sekitar,” ujar Enjat.

Lebih lanjut dijelaskan Enjat, bagian kuningan pada hidran menyebabkan air tidak bisa disalurkan ke selang pemadam kebakaran. Bagian kuningan itu memang menjadi sasaran pencurian dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kalau sudah begitu, Enjat dan kawan-kawan mengakalinya dengan membawa bagian kuningan sendiri dari kantor mereka. Meski seringkali bagian itu tidak pas dengan hidran yang ada di dekat lokasi kebakaran.

“Kalau air dari hidran tidak bisa diambil, kita terpaksa estafet. Ada unit yang bertugas ambil air, ada yang bertugas memadamkan. Bisa juga dengan menyambungkan selang yang ada. Kalau jarak satu kilometer hingga dua kilometer kita masih bisa mencapainyalah. Kalau mengandalkan persediaan air dari mobil kita yang berkapasitas 4000 liter hanya cukup untuk lima menit pemadaman,” papar Mislam.

Saat-saat genting semacam itulah seringkali terjadi kesalahpahaman antara Pasukan Biru dengan warga. Bahkan mereka yang sedang bergantian estafet mengambil air pernah disangka hendak “kabur” oleh warga. Bogem mentah dari warga yang panik dan tak terkendali emosinya pun pernah mendarat di tubuh Mislam dan kawan-kawan. “Saat itu kebakaran di pemukiman padat penduduk kawasan Manggarai. Karena warga panik mereka yang sebenarnya hendak membantu memadamkan api justru melemparkan apa saja termasuk kompor yang berisi minyak tanah. Akibatnya selang kami ketumpahan minyak. Dan ketika api membesar kami disangka sengaja menyemprotkan minyak. Padahal itu tidak mungkin sama sekali. Kalau iya minyak yang kami semprotkan pasti api akan menyembur dari selang kami,” tutur Enjat yang mengaku tak berdaya saat itu.

Peristiwa lain yang cukup menggelitik baru terjadi beberapa waktu lalu saat sebuah toko furnitur di Pondok Bambu dilalap si Jago Merah. Lokasi kejadian saat itu melewati beberapa rumah elit. Sang empunya rumah gedong ternyata terusik dengan kehadiran mobil pemadam kebakaran di depan rumahnya saat itu. Padahal, sirine mobil tidak dinyalakan. Hanya bunyi mesin mobil saja yang terdengar. Karena merasa tidur malamnya terganggu, “bos besar” itu pun mengusir para petugas pemadam yang sedang berusaha menjinakkan api yang tidak jauh dari rumahnya. Tak ayal Enjat dan kawan-kawan pun berang. Untungnya saja mereka bersikap bijak dengan tidak menggubris perilaku tidak terpuji si “bos besar” itu.

“Kalau ada yang meminta bayaran setelah api berhasil dipadamkan sudah dipastikan itu oknum yang mengaku-ngaku dari DPK atau dari kesatuan lain yang mengatasnamakan kami. Kami tidak mengharap apa-apa. Kami sudah cukup senang loh kalau diberi air minum saja. Tapi itu jarang terjadi. Bahkan ucapan terima kasih dari warga bisa dihitung jari,” tutup Enjat diiringi anggukan rekan-rekan seperjuangannya. (yst)

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.