Selama ini, kasus kebakaran sering terjadi di kawasan padat penduduk. Api yang mulanya kecil, ketika menyala di peemukiman padat penduduk akan membesar dengan cepat. Kalau sudah begitu, kepanikan penduduk melanda dan proses penyelamatan dan evakuasi menjadi terganggu.
Pantas memang, saat kebakaran terjadi, orang-orang yang berada di lokasi kejadian menjadi panik. Namun, kepanikan mereka terkadang justru menyulitkan pemadaman api oleh petugas pemadam kebakaran. Hal itu dirasakan pula oleh Enjat Sudrajat, 43 tahun, seorang pemadam kebakaran dari Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kantor Sektor II, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. “Kami paham kalau saat itu korban tidak bisa berbuat apa-apa dan panik. Tapi kadang kepanikan itu menghambat kerja kami. Waktu itu kebakaran terjadi di pemukiman padat penduduk di wilayah Manggarai. Karena penduduk panik, segala macam barang dilemparkan, termasuk kompor minyak tanah. Nah, jadinya minyak berceceran sampai ke selang kami. Penduduk salah sangka ketika mencium selang kami bau minyak tanah, dikira kami menyemprotkan minyak tanah bukan air sehingga api justru membesar. Kami akhirnya dipukuli penduduk. Tapi tugas kami untuk memadamkan api harus terus dilakukan. Jadi kami turun ke Sungai Ciliwung di dekat situ dan menyemprotkan air dari situ agar tidak terganggu dengan ulah penduduk yang panik,” urai Enjat yang sudah bertugas selama 22 tahun.
Kejadian itu bisa menjadi gambaran betapa kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran. Kekurangpahaman akan suatu hal yang dibalur kepanikan memang bisa menjadi bencana. Kalau saja pada peristiwa yang dituturkan di atas Enjat dan rekan-rekannya tidak bersikap bijak dan amanah, tentu saja kerugian harta benda penduduk akan lebih banyak lagi.
Menyadari adanya kekurangpahaman sebagian masyarakat akan penanganan kebakaran dan penyebabnya, dinas pemadam kebakaran (DPK) DKI Jakarta melakukan berbagai sosialisasi. “Kami menerima kunjungan baik itu dari sekolah-sekolah atau perusahaan-perusahaan. Selain itu, kami ada juga kegiatan yang mengunjungi mereka. Kalau di pemukiman kami ada program Balakar di tingkat RW,” ungkap Dr Paimin Napitupulu Msi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.
Balakar sendiri adalah sebuah “kekuatan” yang dibangun di tingkat RW sebagai satu kesatuan dalam sistem ketahanan lingkungan terhadap bahaya kebakaran. Dalam program ini masyarakat dibina untuk memahami gambaran resiko kebakaran di lingkungan tempat tinggal mereka. Perencanaan yang terkait dengan pencegahan kebakaran, perencanaan saat kebakaran terjadi, dan perencanaan untuk tindakan yang diambil setelah kebakaran terjadi juga disosialisasikan.
Di tiap tingkatan RW baiknya memang ada peralatan penaggulangan kebakaran dan dilengkapi dengan sistem komunikasi darurat yang terhubung langsung dengan pos, subdinas bahkan dengan dinas pemadam kebakaran. Peralatan yang sudah ada itu baiknya pula harus dipelihara dan dipastikan tetap berfungsi. Jangan sampai pada saat kejadian alat-alat pemadam kebakaran itu hanya menjadi pajangan belaka. Pembekalan tentang teori-teori yang berkaitan dengan pemadaman api juga perlu diketahui masyarakat. Setidaknya, masyarakat dapat meminimalisasi kobaran api sampai petugas pemadam kebakaran datang.
Dijelaskan oleh Kepala Seksi Publikasi dan Dokumentasi Subdis Partisipasi Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Amanudin S Sos, masyarakat harus memahami pula proses pemadaman api. “Api itu kan sebenarnya terbentuk karena ada tiga unsur, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Kalau ingin memadamkan kobaran api, kita cukup menghilangkan salah satu unsurnya saja,” ujar Amanudin.
Apa yang disampaikan Amanudin bisa diaplikasikan saat Anda mengalami kebakaran. Sebelum api sempat membesar, Anda harus segera menghilangkan salah satu unsur pembentuknya. Namun, perhatikan pula bahan atau benda yang terbakar. Kalau kompor minyak yang terbakar, baiknya jangan menyiramnya langsung dengan air. Bila hal itu dilakukan, minyak tanah dalam kompor justru akan meluber dan menyebabkan api merambat ke mana-mana. Lebih baik hilangkan saja unsur oksigen atau umumnya dipahami sebagai udara. Caranya dengan menutup kobaran api yang mulai membesar dari kompor Anda dengan selimut atau kain tebal apapun yang sudah dibasahi air. Dengan begitu proses terjadinya api akan terhambat.
Pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh tentang kebakaran memang penting dimiliki. Namun hal utama yang harus Anda miliki saat peristiwa kebakaran terjadi adalah kontrol diri. Jangan panik. Jangan biarkan api kecil alias “Sahabat Biru” Anda menjadi “si Jago Merah”. (yst)
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
