Jejeran toko buah di kaki lima Rawamangun itu tampak benderang di malam hari, menarik langkah untuk menghampirinya. Warna-warna mencolok buah-buahan yang dipajang menarik hati. Setelah dekat dan menyapu pandang ke seluruh bagian toko, buah-buahan dengan label bernama asing terlihat mendominasi.
Buah-buahan impor seperti Pir, Apel Fuji, Jeruk Mandarin bahkan Kiwi kini dapat dengan mudah ditemui di kios-kios buah pinggir jalan. Tidak hanya toko buah kaki lima di kota besar seperti Jakarta yang kini menjajakan berbagai buah impor. Lihat saja toko buah kaki lima di kota-kota kecil macam Wonosari, Tasikmalaya, dan Pematang Siantar juga telah menjajakan buah-buah impor.
Hal yang sama juga terlihat di supermarket. Buah-buahan impor dari apel, jeruk, hingga durian berasal dari luar negeri. Kalaupun buah lokal ada di toko buah kaki lima maupun di supermarket, jumlahnya tidak sebanding dengan buah impor.
Banyak alasan mengapa buah impor terlihat lebih mendominasi di pasar buah-buahan negara ini. Misalkan saja seperti pengakuan Vani, 22, warga Grogol. “Saya suka jeruk Mandarin dan jeruk Baby dari China dibanding jeruk lokal macam jeruk Medan. Rasanya lebih manis dan harganya tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Pernyataan Vani pun disetujui oleh Husni Thamrin, 28, pedagang buah di kios pinggir jalan di bilangan Rawamangun. Menurut Husni harga buah lokal dan impor sekarang memang tidak terlalu jauh bedanya. Pedagang yang sudah berjualan buah sejak tahun 1994 itu mengatakan untuk jeruk mandarin pada musim puncaknya harganya bisa turun samapai 5.000 rupiah per kilogram. “Kalau lagi musimnya jeruk Mandarin harga bisa turun banget sampai 5.000 sedangkan jeruk Medan harganya bisa 10.000 sampai 17.000. Makanya pembeli lebih pilih jeruk Mandarin,” ujar Husni.
Baik Husni maupun Vani pun menjelaskan, alasan lain mengapa buah impor lebih digemari oleh pembeli. Mereka mengatakan rasa buah impor lebih menjanjikan. Maksudnya, jika kita membeli jeruk satu kilogram, dijamin rasa seluruh jeruk itu merata, manis semua. Sedangkan pada jeruk lokal, dalam satu kilogram jeruk rasanya bisa berbeda-beda, ada yang manis, ada yang tidak. “Kalau beli buah impor rasanya merata, tidak kecele,” tegas Vani.
Dominasi buah impor di pasar buah kita dipandang berbeda oleh Direktur Budidaya Tanaman Buah Departemen Pertanian, Ir Winny Dian Wibawa MSc. Ia menganggap kalau melihat di supermarket betul dominasi buah impor, yaitu sekitar 60 sampai 70 persen didominasi buah impor. Namun, jika dilihat secara keseluruhan produksi buah lokal, menurut Winny, meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Winny mengatakan. Jumlah produksi buah lokal saat ini berkisar 17 ribu ton per tahun.
Winny menambahkan, beberapa tahun terakhir ini minat masyarakat untuk mengonsumsi buah lokal pun meningkat. Jika tadinya buah-buah lokal seperti belimbing, jambu biji, dan jambu air tidak akan dijumpai di toko buah lokal, kini di supermarket pun akan dengan mudah buah-buah ndeso itu dijumpai. Menurut Winny, tren masyarakat kita saat ini sedang kembali mencintai buah lokal.
Pernyataan yang sama juga diamini oleh Husni yang kerap menggelar dagangannya sejak pukul 13.00. “Trennya sejak tahun 2004 ke sini itu pembeli mencari buah-buah lokal. Terlebih untuk pembeli gulongan atas, mereka malah mencarinya buah lokal. Kalau yang sedang-sedang, beranjak kaya, baru cari buah impor,” ucap Husni sambil terkekeh.
Dukungan Pemerintah
Menanggapi soal kualitas buah lokal yang kalah dibanding buah impor, Winny dengan berat hati mengakuinya. “Buah kita memang dari sisi kualitas belum mampu bersaing dengan buah impor. Perkebunan di luar itu sudah dikelola dengan sangat rapi dan merupakan perkebunan besar,” ujar Winny.
Hal serupa juga dinyatakan Prof Simon B Widjanarko, pakar buah-buah tropikal dari Universitas Brawijaya, Malang. Simon yang telah lama bergelut di bidang agribisnis mengakui bahwa buah lokal tidak bisa dibandingkan dengan buah impor. Dari skala produksi, menurut Simon, buah impor lebih besar. Ia memberi contoh, kebun apel monokultur di Australia dikelola dengan padat modal, padat teknologi, infrastruktur, dan koperasi yang jauh lebih kuat. Sistem koperasi di Australia dikatakan Simon sudah sangat solid bahkan bisa menggaji seorang Doktor dan dua orang lulusan S1. “Tenaga Doktor dan dua lulusan S1 itu fulltime mengurusi perkebunan sejak panen sampai pascapanen. Maka tak heran hasilnya berupa adanya keseragaman kualitas produk dan harga produk yang jauh lebih bersaing dari produk kita,” ujar Simon.
Memang benar, buah-buahan impor, khususnya dari Thailand dan China saat ini kualitas dan kuantitasnya jauh lebih baik dibanding Indonesia karena tatakelola perkebunannya yang sudah maju. Negeri Gajah Putih, Thailand, memulai perkembangan perkebunan mereka dari tahap pengadaan pusat penelitian, kebun percobaan hingga adanya kerjasama yang solid antar pakar-pakar terkait.Para pakar bertugas mengumpulkan informasi seperti bentuk, sifat, dan kualitas buah-buahan yang ada untuk menghasilkan bibit-bibit unggul. Sedangkan pemerintah Thailand bertugas untuk mendukung segala program seperti mengirimkan ahli perkebunan untuk belajar dan mengikuti training di pusat penelitian dan pengembangan buah tropis terbesar di dunia, Chantaburi. Setelah itu para ahli tersebut mentransfer ilmu yang didapat ke petani buah di seluruh negeri secara gratis. Selain itu sebagai negara produsen buah berkaliber internasional, pengelolaan buah diawasi oleh para ahlinya menggunakan teknologi maju, didanai modal besar dengan tujuan untuk memenuhi standardisasi ekspor.
Budi Waluyo, Manajer Operasional PT Agung Mustika Selaras, eksportir manggis, mengatakan sepengetahuan ia selama ini pemerintah memang kurang memproteksi pedagang buah di Indonesia. Ia mengatakan hal itu karena ia melihat bea masuk untuk buah-buahan impor dirasa masih sangat murah. Maka tak heran jika pada musim-musim tertentu buah impor membanjiri pasar Indonesia yang mengakibatkan harganya jauh lebih murah dibanding buah lokal.
Budi yang mengerti seluk beluk penjualan buah di pasar luar negeri menampik tuduhan bahwa semua buah kita mutunya rendah. Khusus manggis yang menjadi garapannya, ia mengatakan kualitasnya lebih tinggi dari manggis Thailand. “Kalau kualitas manggis kita tidak kalah dengan Thailand. Bahkan saya tahu manggis kita sering dilabeli di Thailand lalu dijual di China. Hal itu terjadi karena banyak eksportir dadakan asal Thailand yang turut bermain di sini. Sebisa mungkin pemerintah memproteksi dengan meregristasi gudang-gudang yang ada agar ketahuan mana eksportir teregristasi mana yang dadakan,” urai Budi.
Mungkin benar ucapan Budi tentang tidak semua buah lokal kita kualitasnya lebih rendah dibanding buah impor. Terbukti dengan pemaparan Budi soal “pencurian” manggis oleh pengusaha Thailand. Selain manggis, mangga lokal seperti Arum Manis, Indramayu, Manalagi, dan Golek pun disukai oleh pasar internasional. “Mangga kita itu disukai oleh pasar luar negeri karena mutu dan rasanya yang khas,” ujar Winny.
Ekspor mangga kita memang cukup besar meski angka ekspor dan impor mangga kita hampir sebanding. Tercatat pada tahun 2006, menurut data Departemen Pertanian, sebanyak 930.066 kilogram mangga berhasil di ekspor. Sedangkan angka untuk impor mangga kita di tahun yang sama adalah 948.145 kilogram mangga. Mungkin buah lokal kita yang mampu merajai pasar internasional adalah nanas, manggis, dan pisang. Hal itu terlihat dari tital ekspor yang jauh lebih tinggi disbanding total jumlah impornya, yaitu berturut-turut berjumlah 204.920.547 kilogram nanas, 5.857.407 kilogram manggis, dan 5.280.641 kilogram pisang. Dan jumlah itu semuanya bernilai di atas jutaan dolar AS! Kalau kita mau serius menangani semua jenis buah local kita yang sangat berpotensi, bayangkan pundit-pundi rupiah yang nantinya bisa kita miliki! (yst)
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
