Pantang Pulang Meski Serba Kurang

Ketika si Jago Merah melalap segala yang ada di dekatnya, Pasukan Biru segera membantu. Meski resiko tinggi harus dihadapi, petugas pemadam kebakaran pantang pulang sebelum api padam.

Kebakaran hebat di Depot Pertamina di Plumpang Jakarta Utara pada Minggu (18/1) malam menambah daftar kejadian kebakaran di Indonesia. Tidak hanya masuk dalam daftar kejadian kebakaran biasa, peristiwa kebakaran kali itu tergolong kebakaran besar. Bayangkan saja, sekitar 2.054 kiloliter bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dalam satu tangki berkapasitas 9.731 kiloliter habis terbakar saat itu. Kobaran api bahkan terlihat sampai ke beberapa wilayah di Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat.

Kebakaran yang diawali ledakan hebat sekitar pukul 21.15 WIB itu membesar dengan cepat sehingga menimbulkan kekhawatiran akan meluas ke permukiman warga sekitar. Kekhawatiran yang beralasan mengingat tangki nomor 24 yang terbakar hanya berjarak sekitar 50 meter dengan tangki lainnya. Hal itu pun menimbulkan rumor bahwa kebakaran semacam itu tidak akan padam dalam satu hari atau bahkan empat hari. Wajar memang rumor itu begitu santer berhembus. Pasalnya pada kejadian serupa di beberapa tempat, kobaran api memang baru padam setelah beberapa hari berselang. Namun kali ini tak sampai hitungan 24 jam, api yang ketinggiannya mencapai seratus meter lebih dapat dipadamkan.

Selain kapasitas tangki saat itu tidak terisi penuh, peran besar pasukan biru dalam memadamkan api pun menjadi faktor cepatnya pemadaman api. Para pemadam kebakaran yang identik dengan seragam berwarna biru saat itu terus mendekat ke sumber api meski panas telah terasa dalam jarak satu kilometer.

Pasukan yang memiliki motto “Pantang Pulang Sebelum Padam” itu pada malam kejadian dikabarkan diturunkan sekitar 200 personil dengan dilengkapi 47 unit mobil pemadam kebakaran. Jumlah yang sedikit memang bila mengingat besarnya kobaran api yang melanda. Jumlah personil sebanyak itu akan terasa semakin tidak mencukupi bila melihat besarnya potensi meluasnya kobaran api di Depot Pertamina yang menampung kebutuhan BBM se-Jakarta itu.

Meski api akhirnya bisa dijinakkan, jumlah personil yang tidak sebanding dengan besarnya kebakaran menimbulkan pertanyaan. Mengapa pihak Dinas Pemadam Kebakaran berani mengambil resiko dengan hanya menurunkan personil sebanyak itu. Saat hal itu dikonfirmasi ke Dinas Pemadam Kebakaran Daerah Khusus Ibukota Jakarta, diakui hal itu bukan merupakan kesengajaan. “Saat peristiwa kebakaran Plumpang terjadi, kebetulan di saat yang bersamaan terjadi dua peristiwa kebakaran lain. Jadi personil yang ada di seluruh sudin dipecah ketiga lokasi,” ujar Dr Paimin Napitupulu Msi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.

Tak Memadai

Pernyataan Paimin tentunya dapat menggambarkan begitu tidak mencukupinya jumlah personil pemadam kebakaran bila dibandingkan dengan luasan wilayah kerja dan potensi kebakaran yang mungkin terjadi. Itu hanya dari personil, belum lagi dari sarana dan prasarana yang mendukung kinerja dinas pemadam kebakaran (DPK).

Dari data DPK DKI Jakarta diketahui bahwa personil untuk wilayah terpadat di Indonesia ini hanya berjumlah 2351 orang. Jumlah itu pun dibagi menjadi lima suku dinas, kantor dinas, dan pusat latihan kebakaran (puslatkar). Jumlah itu pun dibagi lagi untuk jenis tugas dan kepangkatannya. Artinya, dari 2351 orang tidak semuanya saat kebakaran terjadi dapat diterjunkan ke lokasi.

Untuk inspektur kebakaran, jumlah personil saat ini sebanyak 230 orang yang tersebar di lima suku dinas dan satu kantor dinas. Sedangkan untuk penyelamat di wilayah kerja yang sama jumlahnya sebanyak 159 personil. Sedangkan sisa personil DPK lain ditempatkan pada jenis tugas yang tidak langsung berhubungan dengan kejadian kebakaran. Jumlah ini jelas tidak mencukupi untuk wilayah Jakarta yang kepadatan penduduknya 16.667 per kilometer persegi. “Seharusnya untuk persepuluh ribu penduduk terdapat satu unit pemadam kebakaran yang minimal diisi dengan enam personil. Itu idealnya. Jadi kalau dihitung-hitung dengan jumlah penduduk Jakarta seharusnya ada 800 unit pemadam kebakaran,” ungkap Kepala Seksi Publikasi dan Dokumentasi Subdis Partisipasi Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Amanudin S Sos.

Jumlah ideal itu masih jauh dari kenyataan yang ada. Armada yang dimiliki DPK Jakarta berjumlah tak lebih dari 500 unit yang terbagi menjadi beberapa jenis kendaraan. Untuk mobil pompa jumlah yang laik jalan hanya 122 unit. Mobil tangga bahkan jumlahnya lebih sedikit lagi, yakni hanya 4 unit yang berfungsi baik dari 8 yang tersedia. Jenis-jenis mobil pendukung operasional lainnya pun jumlahnya masih dalam hitungan tak lebih dari 10 unit.

Ketersediaan titik-titik air sebagai sumber pasokan saat terjadi peristiwa kebakaran pun tidak mencukupi. Dijelaskan Amanudin, sumber air yang digunakan DPK terbagi menjadi beberapa sumber, yakni hidran, tandon air, dan tangki air. Pada data resmi yang tercatat di DPK DKI Jakarta terdapat sebanyak 1.075 hidran, 95 tandon air, dan 8 tangkiair di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Meski tercatat dalam jumlah yang terlihat banyak, pada kenyataannya tidak semua hidran berfungsi dengan baik. “Kalau kita lihat hidran air itu banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan-jalan. Tapi itu tidak semuanya berfungsi. Maksudnya bukan juga hidrannya rusak, bisa jadi sumber airnya di bawah tidak ada. Jadi yang keluar ya angin saja,” ujar Paimin.

Lebih lanjut paimin mengatakan, hal seperti ketiadaan air di hidran-hidran itu dapat terjadi karena saluran air hidran selama ini masih sama dengan saluran air PAM yang diperuntukkan bagi warga. Ia mengatakan menjadi wajar saja bila saat warga memakai air dalam jumlah banyak, debit air yang keluar untuk memadamkan api jadi tidak mencukupi. Paimin beserta jajarannya sampai saat ini pun masih mengusahakan agar sumber air DPK dan warga nantinya dipisahkan guna memudahkan proses kerja mereka.

Kesadaran Kurang

Jumlah yang tidak mencukupi memang bila kita melihat frekuensi kebakaran di DKI. Menurut DPK DKI Jakarta, frekuensi kebakaran sepanjang 2008 di wilayah ini terjadi sebanyak 819 kejadian. Wilayah Jakarta Pusat merupakan wilayah yang paling sedikit angka kejadian kebakarannya, yaitu hanya 110 kejadian. Sedangkan wilayah Jakarta Selatan merupakan wilayah yang paling tinggi angka kejadian kebakarannya, yaitu 204 kejadian.

Perbedaan angka kejadian itu dijelaskan Amanudin berkaitan dengan banyak hal. Wilayah yang padat penduduknya seperti di Jakarta Slatan, Timur, dan Utara memang rentan dengan kebakaran. Sedangkan wilayah Jakarta Pusat yang relatif lebih tertata kawasannya dan banyak bangunan yang diperuntukkan bukan untuk tempat tinggal menyebabkan angka kejadian kebakarannya sedikit disbanding wilayah lain.

Kesadaran masyarakat akan keselamatan dan pencegahan kebakaran juga dinilai sebagai faktor yang memperkecil jumlah angka kejadian kebakaran di suatu wilayah. Masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi dan tingkat kemampuan ekonomi mencukupi memang lebih sadar akan bahaya kebakaran. Setidaknya mereka mampu menyediakan tabung pemadam kebakaran darurat.

“Bukankah lebih baik kalau kita mencegah kebakaran itu sebelum terjadi. Hal itu mungkin terjadi kalau masyarakat membantu kerja DPK. Maka tugas kami pun tidak hanya meliputi memadamkan kebakaran. Pencegahan kebakaran dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan bahaya kebakaran dan antisipasinya justru menjadi tugas utama kami. Hal itu jelas dicantumkan di Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) DPK,” jelas Paimin lagi.

Sering pula para personil pemadam kebakaran mendapat cacian ketika beraksi memadamkan api. Mereka sering dinilai terlambat sampai di lokasi kebakaran sehingga api sudah menjalar ke bangunan lain. Menanggapi hal itu, baik Paimin maupun personil pemadam kebakaran lainnya langsung menyunggingkan senyum maklum. Mereka paham warga atau siapapun yang kala itu menjadi korban kebakaran pasti ingin harta bendanya terselamatkan dengan segera dari jilatan api. Namun, perlu dipahami pula bahwa pemadam kebakaran sudah berusaha semaksimal mungkin memadamkan api ketika kebakaran melanda.

“Waktu respon time kita itu maksimal 15 menit. Tapi kalau masyarakat tidak membantu dengan misalkan memberikan jalan kepada mobil pemadam kebakaran yang lewat tentu saja itu sulit dicapai. Apa lagi kalau warga berkerumun hingga menghalangi personil mendekat ke lokasi kebakaran. Bantuan dari masyarakat itu tidak usah yang sulit-sulit cukup dengan memberi informasi tentang di mana lokasi titik air terdekat misalnya,” ujar Paimin yang mewakili personil pemadam kebakaran lain.

Keberhasilan dalam peristiwa kebakaran memang tidak hanya dilihat dari padamnya api atau tidak. Tidak meluasnya kobaran api ke bangunan lain misalnya merupakan indikator keberhasilan pemadaman. Jadi meski bangunan awal sudah tak bersisa, jika api mampu dilokalisasi di satu titik, seperti yang terjadi di Depot Pertamina Plumpang, tentunya ucapan selamat dan terima kasih pantas kita berikan pada Sang Penakluk Api. (yst)

Bersiap Diri di Bangunan Tinggi

Kemajuan zaman selain menghadirkan kemudahan turut pula menuntut tanggung jawab agar kemudahan itu tak menjadi bumerang. Seiring laju modernisasi, kota-kota besar seperti Jakarta kian dipenuhi dengan bangunan-bangunan tinggi pencakar langit. Tak hanya dua-tiga lantai, puluhan bahkan ada yang mencapai di atas seratus lantai.

Semakin tinggi gedung, semakin besar pula resiko kecelakaan yang harus dihadapi, termasuk kebakaran. Maka dari itu dinas pemadam kebakaran (DPK) memasukkan kelompok bangunan tinggi ke dalam salah satu objek garapan dari sistem ketahanan lingkungan terhadap kebakaran. Mengapa lingkungan yang turut membangun sistem ini? Jawabannya dapat dianalogikan dengan keberadaan sebuah kapal yang terbakar di lautan yang membentang luas. Kala itu terjadi, pihak yang bertanggung jawab di kapal harus mampu menyelamatkan penghuninya secara mandiri.

Pada kasus bangunan pencakar langit, ketinggiannya menjadi di luar jangkauan DPK. Upaya pemadaman dan penyelamatann yang paling efektif untuk jenis bangunan ini adalah dengan bentuk pemadaman dari dalam gedung (in door fire fighting). Namun, DPK tidak menjadi lepas tangan begitu saja terhadap sistem ketahanan lingkungan pada bangunan tinggi itu. Ada acuan-acuan yang disosialisasikan kepada pengelola bangunan tinggi agar sistem itu terwujud.

Mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati. Hal itu berlaku juga untuk sistem ketahanan lingkungan di gedung tinggi dalam menghadapi bahaya kebakaran. Sering kali kita mendengar kasus penyelamatan korban kebakaran dari gedung tinggi yang sulit dilakukan. Korban terjebak di ruang atau lantai tertentu hingga tak dapat meloloskan diri.

Contoh konkretnya adalah kasus kebakaran pada kerusuhan Mei 1998. Salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Timur terbakar hingga ratusan korban jiwa tewas di dalamnya. Rata-rata para korban itu tewas karena terjebak di dalam bangunan, tak menemukan jalan keluar. Ketika api dan asap mengepul dari bawah, korban yang panik justru lari ke atas. Akibatnya, mereka terjebak dan tewas kehabisan nafas atau nekat terjun dari ketinggian yang tentunya berakibat fatal.

Dari contoh itu, jelas pencegahan berupa tersedianya akses keluar-masuk bangunan tinggi menjadi sangat penting. Akses itu terutama sangat dibutuhkan bagi penghuni atau pengunjung gedung. Ketersediaan tangga darurat mutlak dipunyai sebuah bangunan tinggi. Akses keluar-masuk itu pun berlaku pula untuk DPK. Pada saat terjadi kasus kebakaran di gedung tinggi yang berada di suatu komplek DPK biasanya kesulitan mendekati bangunan. Lebar jalan masuk dan sudut tikungan ke komplek bangunan tinggi mutlak harus disesuaikan dengan unit-unit pemadam kebakaran. Ketinggian gerbang komplek (gapura atau portal) juga disyaratkan tidak kurang dari 5,6 meter.

Sarana proteksi kebakaran juga menjadi kebutuhan wajib bagi bangunan tinggi. Alat pemadam api ringan (APAR), hidran, dan sprinkler otomatis wajib dimiliki bangunan tinggi pada tiap lantainya.

Tidak sekedar tersedia. Fungsi dan kesiapan alat-alat proteksi dan pemadaman kebakaran itu pun harus selalu mumpuni saat kebakaran terjadi. “Karena salah satu tugas kami yang tertulis dalam Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) adalah pencegahan maka bentuk pengecekan rutin terhadap kesiapan sistem proteksi kebakaran di gedung tinggi juga kami lakukan,” ujar Kepala Seksi Publikasi dan Dokumentasi Subdis Partisipasi Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Amanudin S Sos.

Lebih lanjut Amanudin mengatakan, pelatihan-pelatihan dalam menghadapi kebakaran dalam gedung tinggi juga hendaknya rutin dilakukan oleh pengelola yang bekerja sama dengan DPK. Seluruh penghuni gedung harus memahami apa yang wajib dilakukan saat kebakaran terjadi, termasuk prosedur dan jalur evakuasi.

Saat kebakaran terjadi di gedung tinggi yang Anda huni, sebaiknya lakukan hal berikut:

  • Segera bunyikan alarm kebakaran yang letaknya paling dekat dengan Anda
  • Jika kebakaran masih kecil, segera lakukan pemadaman dengan APAR yang tersedia
  • Jika Anda tidak mampu atau tidak berhasil memadamkan api, segera tinggalkan ruangan dan tutup semua pintu yang Anda lalui. Hal itu dimaksudkan agar panas, api, dan asap tidak menjalar ke ruangan lain
  • Jangan gunakan lift atau elevator bila Anda berada di lantai atas. Gunakanlah tangga darurat agar Anda tidak terjebak saat listrik padam (yst)

Berteman dengan “Sahabat Biru”

Selama ini, kasus kebakaran sering terjadi di kawasan padat penduduk. Api yang mulanya kecil, ketika menyala di peemukiman padat penduduk akan membesar dengan cepat. Kalau sudah begitu, kepanikan penduduk melanda dan proses penyelamatan dan evakuasi menjadi terganggu.

Pantas memang, saat kebakaran terjadi, orang-orang yang berada di lokasi kejadian menjadi panik. Namun, kepanikan mereka terkadang justru menyulitkan pemadaman api oleh petugas pemadam kebakaran. Hal itu dirasakan pula oleh Enjat Sudrajat, 43 tahun, seorang pemadam kebakaran dari Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kantor Sektor II, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. “Kami paham kalau saat itu korban tidak bisa berbuat apa-apa dan panik. Tapi kadang kepanikan itu menghambat kerja kami. Waktu itu kebakaran terjadi di pemukiman padat penduduk di wilayah Manggarai. Karena penduduk panik, segala macam barang dilemparkan, termasuk kompor minyak tanah. Nah, jadinya minyak berceceran sampai ke selang kami. Penduduk salah sangka ketika mencium selang kami bau minyak tanah, dikira kami menyemprotkan minyak tanah bukan air sehingga api justru membesar. Kami akhirnya dipukuli penduduk. Tapi tugas kami untuk memadamkan api harus terus dilakukan. Jadi kami turun ke Sungai Ciliwung di dekat situ dan menyemprotkan air dari situ agar tidak terganggu dengan ulah penduduk yang panik,” urai Enjat yang sudah bertugas selama 22 tahun.

Kejadian itu bisa menjadi gambaran betapa kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran. Kekurangpahaman akan suatu hal yang dibalur kepanikan memang bisa menjadi bencana. Kalau saja pada peristiwa yang dituturkan di atas Enjat dan rekan-rekannya tidak bersikap bijak dan amanah, tentu saja kerugian harta benda penduduk akan lebih banyak lagi.

Menyadari adanya kekurangpahaman sebagian masyarakat akan penanganan kebakaran dan penyebabnya, dinas pemadam kebakaran (DPK) DKI Jakarta melakukan berbagai sosialisasi. “Kami menerima kunjungan baik itu dari sekolah-sekolah atau perusahaan-perusahaan. Selain itu, kami ada juga kegiatan yang mengunjungi mereka. Kalau di pemukiman kami ada program Balakar di tingkat RW,” ungkap Dr Paimin Napitupulu Msi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.

Balakar sendiri adalah sebuah “kekuatan” yang dibangun di tingkat RW sebagai satu kesatuan dalam sistem ketahanan lingkungan terhadap bahaya kebakaran. Dalam program ini masyarakat dibina untuk memahami gambaran resiko kebakaran di lingkungan tempat tinggal mereka. Perencanaan yang terkait dengan pencegahan kebakaran, perencanaan saat kebakaran terjadi, dan perencanaan untuk tindakan yang diambil setelah kebakaran terjadi juga disosialisasikan.

Di tiap tingkatan RW baiknya memang ada peralatan penaggulangan kebakaran dan dilengkapi dengan sistem komunikasi darurat yang terhubung langsung dengan pos, subdinas bahkan dengan dinas pemadam kebakaran. Peralatan yang sudah ada itu baiknya pula harus dipelihara dan dipastikan tetap berfungsi. Jangan sampai pada saat kejadian alat-alat pemadam kebakaran itu hanya menjadi pajangan belaka. Pembekalan tentang teori-teori yang berkaitan dengan pemadaman api juga perlu diketahui masyarakat. Setidaknya, masyarakat dapat meminimalisasi kobaran api sampai petugas pemadam kebakaran datang.

Dijelaskan oleh Kepala Seksi Publikasi dan Dokumentasi Subdis Partisipasi Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Amanudin S Sos, masyarakat harus memahami pula proses pemadaman api. “Api itu kan sebenarnya terbentuk karena ada tiga unsur, yaitu panas, bahan bakar, dan oksigen. Kalau ingin memadamkan kobaran api, kita cukup menghilangkan salah satu unsurnya saja,” ujar Amanudin.

Apa yang disampaikan Amanudin bisa diaplikasikan saat Anda mengalami kebakaran. Sebelum api sempat membesar, Anda harus segera menghilangkan salah satu unsur pembentuknya. Namun, perhatikan pula bahan atau benda yang terbakar. Kalau kompor minyak yang terbakar, baiknya jangan menyiramnya langsung dengan air. Bila hal itu dilakukan, minyak tanah dalam kompor justru akan meluber dan menyebabkan api merambat ke mana-mana. Lebih baik hilangkan saja unsur oksigen atau umumnya dipahami sebagai udara. Caranya dengan menutup kobaran api yang mulai membesar dari kompor Anda dengan selimut atau kain tebal apapun yang sudah dibasahi air. Dengan begitu proses terjadinya api akan terhambat.

Pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh tentang kebakaran memang penting dimiliki. Namun hal utama yang harus Anda miliki saat peristiwa kebakaran terjadi adalah kontrol diri. Jangan panik. Jangan biarkan api kecil alias “Sahabat Biru” Anda menjadi “si Jago Merah”. (yst)

Kisah Seru dan Haru Pasukan Biru


“Saya langsung tertarik ketika pertama kali ditugasi. Meski sadar resiko kerja menjadi pemadam kebakaran sangat tinggi, saya tetap setia bertugas,” ujar Enjat Sudrajat, 43 tahun, salah seorang Pasukan Biru yang bertugas di Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kantor Sektor II, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Enjat bukan satu-satunya Pasukan Biru yang merasa betah dan tertarik untuk terus menggeluti profesi sebagai pemadam kebakaran. Ia memang “baru” bertugas selama 22 tahun di dinas pemadam kebakaran (DPK). Tak jauh berbeda dengan rekannya, Gunawan, 52 tahun yang “baru” berjibaku dengan panasnya api selama 36 tahun.

Enjat, Gunawan bersama Mislam (43), Herman Setiawan (23), dan Manan Yulmini Klianto (25) tergabung dalam kelompok C yang bertugas di kantor sektor yang sama. Mereka telah merasakan panas dan dinginnya dunia fire fighter. Dari bibir kelima Pasukan Biru itu terlontarlah cerita-cerita menarik dan menggelitik selama mereka bertugas. Di sela-sela waktu piket dan tetap dalam keadaan siaga, mereka meluangkan waktu untuk berbagi kisah kepada Koran Jakarta.

Ketika ditanyai tentang pengalaman pertama mereka ditugasi memadamkan api, jawaban yang keluar dari kelimanya hampir sama. Mereka mengaku merasa antusias sekaligus cemas. “Mungkin karena masih muda jadi begitu bersemangat,” ujar Enjat yang mendapatkan tugas memadamkan kebakaran kecil di perumahan sebagai tugas pertamanya. Rasa cemas karena merasakan hawa panas api yang luar biasa pun sempat menjalari Herman ketika pertama kali ditugasi untuk memadamkan api di pemukiman penduduk di kawasan Saharjo, Jakarta Selatan. Terlebih saat itu Herman masih dalam masa pelatihan di Pusat Latihan Kebakaran, Ciracas, Jakarta Timur.

Namun, justru pengalaman pertama yang memacu adrenalin itulah yang membuat kelimanya “kecanduan” untuk terus bekerja sebagai pemadam kebakaran. Tak terhitung sudah berapa kejadian kebakaran yang berhasil mereka jinakkan selama bertugas. Tapi dari sekian banyak pengalaman mereka menjinakkan api, toh mereka punya pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan.

“Saya paling ingat waktu kebakaran di Pasar Mester Jatinegara dan di Kawasan Industri Pulogadung. Saat itu saya kejatuhan tembok hingga nggak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Karena masih muda dan minim pengalaman, saya tidak tahu tanda-tanda tembok mau roboh ketika panas dari api sudah sangat tinggi. Sedangkan yang di Kawasan Industri Pulogadung itu saya terjebak di lantai dua sebuah pabrik. Di lantai dua gedung itu ternyata ada drum-drum tiner yang akhirnya meledak. Karena terdesak, saya sembunyi di bawah meja. Syukurnya tiner cepat terbakar jadi saya hanya terjilat api saja saat itu. Tidak luka bakar, cuma bulu-bulu di kulit saya hangus,” tutur Enjat runtut mengenai pengalamannya menjinakkan api.

Enjat dan keempat kawannya mengaku tidak lantas trauma bila mengalami kejadian seperti itu. Mereka justru menjadikan itu sebagai pengalaman berharga yang dapat dijadikan pelajaran bagi diri untuk lebih waspada di kemudian hari.

Keluarga mereka pun turut bangga dengan profesi pemadam kebakaran yang mereka geluti. Anak-anak lelaki Enjat bahkan ada yang berminat untuk meneruskan kebanggaan ayah mereka sebagai Pasukan Biru. Kebanggaan dan ketertarikan itu tumbuh sendiri tanpa Enjat ‘kompori’. “Saya cerita apa adanya tentang pekerjaan saya sebagai pemadam kebakaran. Paling mereka jadi terenyuh dan bangga kalau saya pulang piket dengan kondisi lelah setelah memadamkan api. Kadang saya juga cerita keharuan saya ketika bisa membantu orang-orang yang harta bendanya habis dilalap api. Mungkin dari situ anak-anak lelaki saya tertarik mengikuti jejak saya,” urai Enjat.

Kebanggaan serupa juga dialami oleh Herman. Ia awalnya adalah seorang petugas Satpol PP yang telah bertugas selama dua tahun. Diceritakan Herman, saat itu ia hendak meminang kekasihnya untuk dijadikan istri. Namun, niat baiknya itu ditolak mentah-mentah oleh orang tua kekasihnya yang mengetahui bahwa Herman adalah seorang petugas Satpol PP kala itu. “Orang tua pacar saya kan pedagang, punya toko di pasar. Jadi mungkin kurang suka dengan saya yang Satpol PP saat itu. Eh, waktu saya dipindahtugaskan ke DPK 10 bulan lalu, calon mertua saya itu jadi menyetujui pernikahan kami,” ujar Herman sembari diiringi gelak tawa rekan-rekannya.

Diakui para penakluk api itu, kebanggaan sebagai pemadam kebakaran tak ternilai harganya. Mereka merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Meski penghasilan mereka tak sebanding dengan resiko kerja yang harus mereka hadapi, balasan berupa pahala lebih mereka harapkan.

Bagi pemadam kebakaran yang berstatus PNS pendapatan mereka diakui lebih mencukupi dibanding petugas pemadam kebakaran yang statusnya masih kontrak atau PTT (pegawai tidak tetap). Meski tak mau menyebut jumlah pastinya, Enjat mengatakan penghasilan yang ia terima sama halnya seperti PNS lain. “Kalau statusnya PNS DKI pendapatannya lumayan. Kalau PTT pun tidak buruk-buruk amat meski harus menunggu maksimal empat tahun untuk diangkat jadi PNS. Yang kasihan sih yang di luar DKI. Teman saya di Depok itu pendapatannya hanya 900 ribu,” ungkap Enjat yang memiliki lima orang anak itu.

Suka Duka

Kelompok C di Kantor Sektor II Kecamatan Pulogadung termasuk personil yang diturunkan pada kejadian kebakaran Depot Pertamina Plumpang, Jakarta Utara beberapa hari lalu. Meski saat itu status mereka sedang memasuki masa cadangan – tidak sedang bertugas piket di kantor – karena kebakarannya tergolong besar mereka ikut diterjunkan.

Terlontarlah cerita-cerita tak disangka dari mereka tentang kejadiaan malam itu. Contohnya saja ketika kebakaran melanda, Jakarta pun diguyur hujan lebat. Mungkin kita yang berada di rumah akan berucap syukur karena hujan turun dan beranggapan guyuran hujan mampu membantu memadamkan api. Padahal hal itu sama sekali tak diinginkan oleh pasukan Biru yang berjibaku di sana. “Kalau hujan turun terus dengan deras kami jadi khawatir premium di dalam tangki akan meluber. Akibatnya bisa fatal. Api bisa-bisa merambat ke mana-mana dan menyambar tangki di dekatnya,” tutur Mislam yang diamini rekan-rekannya.

Hujan saat itu menambah kesengsaraan mereka. Baju mereka basah total karena selain terguyur air yang digunakan untuk memadamkan juga terguyur hujan deras. Dingin pasti menyelimuti hingga ke tulang mereka. Tak hilang akal, mereka terkadang justru memanfaatkan panasnya kobaran api untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mengeringkan pakaian.

Pada kejadiaan di Plumpang mereka dapat dikatakan berhasil dalam menjalankan tugas. Terlebih melihat potensi meluasnya kebakaran sangat tinggi, namun mereka dapat melokalisasi api hanya di satu titik. Teori yang mereka pahami dan improvisasi mereka gunakan dalam memadamkan kobaran api setinggi 100 meter saat itu.

Tak hanya di Plumpang mereka harus memutar otak dengan cepat mengalahkan cepatnya lalapan api. Pada kasus-kasus lain pun hal yang sama diterapkan. “Kami seringkali harus memutar otak lebih keras saat terjadi kebakaran di satu tempat. Halangannya macam-macam. Dari hilangnya bagian kuningan pada hidran sampai kurang kerja sama dari pihak warga sekitar,” ujar Enjat.

Lebih lanjut dijelaskan Enjat, bagian kuningan pada hidran menyebabkan air tidak bisa disalurkan ke selang pemadam kebakaran. Bagian kuningan itu memang menjadi sasaran pencurian dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kalau sudah begitu, Enjat dan kawan-kawan mengakalinya dengan membawa bagian kuningan sendiri dari kantor mereka. Meski seringkali bagian itu tidak pas dengan hidran yang ada di dekat lokasi kebakaran.

“Kalau air dari hidran tidak bisa diambil, kita terpaksa estafet. Ada unit yang bertugas ambil air, ada yang bertugas memadamkan. Bisa juga dengan menyambungkan selang yang ada. Kalau jarak satu kilometer hingga dua kilometer kita masih bisa mencapainyalah. Kalau mengandalkan persediaan air dari mobil kita yang berkapasitas 4000 liter hanya cukup untuk lima menit pemadaman,” papar Mislam.

Saat-saat genting semacam itulah seringkali terjadi kesalahpahaman antara Pasukan Biru dengan warga. Bahkan mereka yang sedang bergantian estafet mengambil air pernah disangka hendak “kabur” oleh warga. Bogem mentah dari warga yang panik dan tak terkendali emosinya pun pernah mendarat di tubuh Mislam dan kawan-kawan. “Saat itu kebakaran di pemukiman padat penduduk kawasan Manggarai. Karena warga panik mereka yang sebenarnya hendak membantu memadamkan api justru melemparkan apa saja termasuk kompor yang berisi minyak tanah. Akibatnya selang kami ketumpahan minyak. Dan ketika api membesar kami disangka sengaja menyemprotkan minyak. Padahal itu tidak mungkin sama sekali. Kalau iya minyak yang kami semprotkan pasti api akan menyembur dari selang kami,” tutur Enjat yang mengaku tak berdaya saat itu.

Peristiwa lain yang cukup menggelitik baru terjadi beberapa waktu lalu saat sebuah toko furnitur di Pondok Bambu dilalap si Jago Merah. Lokasi kejadian saat itu melewati beberapa rumah elit. Sang empunya rumah gedong ternyata terusik dengan kehadiran mobil pemadam kebakaran di depan rumahnya saat itu. Padahal, sirine mobil tidak dinyalakan. Hanya bunyi mesin mobil saja yang terdengar. Karena merasa tidur malamnya terganggu, “bos besar” itu pun mengusir para petugas pemadam yang sedang berusaha menjinakkan api yang tidak jauh dari rumahnya. Tak ayal Enjat dan kawan-kawan pun berang. Untungnya saja mereka bersikap bijak dengan tidak menggubris perilaku tidak terpuji si “bos besar” itu.

“Kalau ada yang meminta bayaran setelah api berhasil dipadamkan sudah dipastikan itu oknum yang mengaku-ngaku dari DPK atau dari kesatuan lain yang mengatasnamakan kami. Kami tidak mengharap apa-apa. Kami sudah cukup senang loh kalau diberi air minum saja. Tapi itu jarang terjadi. Bahkan ucapan terima kasih dari warga bisa dihitung jari,” tutup Enjat diiringi anggukan rekan-rekan seperjuangannya. (yst)

Berjalanlah

Jika berlari mampu membuatmu jauh dariku… berjalanlah..

karena kau tetap menjauh dariku..

Menyelubungi dengan tirai..agar aku tak melihat meski ujung bulu matamu..

Cukup kau berputar ke belakangku.. dan aku pun tak akan melihatmu.. sampai kau panggil namaku..

Coba Saya Tahu dari Dulu…

“Kalau tahu dari dulu bisnis ini sangat potensial, saya buka perkebunan sejak lama saja. Pasti saat ini saya sudah kaya.”

Kalimat itu muncul dari Amir Hamzah, 52, seorang petani buah pepaya di Banyuwangi. Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di Jakarta itu memang baru empat tahun bergumul dengan pacul dan tanah di kebunnya seluas tiga hektar. Meski baru empat tahun menggeluti usaha perkebunan pepaya, Amir tergolong sukses sebagai pemula.

Ia tidak tampak seperti stereotipe petani di Indonesia pada umumnya yang hanya berkawan lumpur dan pacul. Demi melancarkan usahanya, Amir bahkan membuat blog tentang perkebunannya di internet. Blog yang telah berusia satu tahun lebih itu memang ampuh mendongkrak penjualan hasil kebunnya. Alhasil, selain memasok ke pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Amir pun memasok keperluan pepaya segar ke beberapa hotel di Bali. “Awalnya saya suplier buah dan sayuran jadi sedikit banyak saya punya link ke sana. Saya juga tahu permintaan akan buah pepaya cukup besar sehingga saya memilih pepaya untuk ditanam di kebun saya,” ujar pria dengan tiga orang anak ini.

Meski tergolong petani moderen, bukan berarti Amir tak pernah merasakan berada di rimba perkebunan dan penjualan hasil kebunnya. Ia adalah jenis pemimpin yang sekaligus prajurit. Amir kerap berada di barisan depan bisnisnya. “Awal usaha yang saya pikirkan bagaimana mengefisienkan pengiriman buah ke Jakarta, jangan sampai tekor di ongkos. Setelah hitung-hitung untuk mengisi maksimal satu mobil bak terbuka diperlukan lima ton pepaya Jumlah itu hnya bisa dipenuhi dari hasil panen tiga hektar kebun. Makanya, saya kemudian membuka lahan seluas tiga hektar ini,” paparnya.

Selama membudidayakan pepaya seingat Amir dirinya tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Bimbingan, penyuluhan, atau kemudahan-kemudahan lain tak pernah mampir ke perkebunannya. Ia melakukan semuanya sendiri hasil cari-cari ilmu di berbagai tempat, termasuk dari internet dan buku yang menjadi sumber inspirasinya.

Meski tergolong pemain baru di bisnis ini, Amir sudah merasakan asam garamnya. Ia mengeluhkan sistem transportasi, termasuk prasarana seperti jalan raya yang kurang diperhatikan pemerintah. “Kalau saya antar pepaya ke Jakarta dari Banyuwangi itu bisa memakan waktu 24 jam. Kami berangkat setelah panen biasanya pukul empat sore, jam empat pagi kami harus sampai ke Pasar Induk Kramat Jati. Karena jalan banyak yang rusak, kami sering telat juga sampai Jakarta. Padahal daya tahan pepaya tidak lama, hanya satu hari. Kalau sudah begitu saya bisa rugi sampai satu ton pepaya karena busuk,” papar pria yang menghabiskan seluruh jenjang pendidikannya di Jakarta ini.

Karena modalnya terbatas, Amir tidak sanggup mempekerjakan banyak pegawai diperkebunannya. Ia hanya mempekerjakan satu orang penanggung jawab kebun. Semua pekerjaan khas perkebunan seperti penyiraman, pemberian pupuk hingga panen ia kerjakan sendiri dibantu beberapa pekerja borongan. “Semua saya kerjakan sendiri dan pakai sistem borongan. Cara itu mampu menghemat pengeluaran saya,” ujar Amir.

Pria yang beristrikan wanita asli Betawi ini bercita-cita mampu menembus pasar supermarket dan membuka toko buah-buahan sendiri. Hanya saja ia belum mampu mewujudkan cita-citanya itu karena untuk menembus pasar supermarket disadarinya perlu penanganan serius terhadap produknya. Amir mengaku dengan keterbatasan dana dan sedikitnya pegawai ia masih kewalahan jika ingin mengemas produknya agar mampu menembus pasar supermaket.

“Selama ini saya jualan, ya pepayanya tidak dikemas khusus. Cuma dibungkus-bungkus kertas koran. Makanya banyak juga pepaya yang kulitnya cacat ketika sampai ke pasar. Harganya juga jadi turun bahkan tidak ada harganya karena terlalu bonyok.”

Meski perjalannya sebagai petani buah sangat sulit, Amir tidak lekas putus asa. Meski banyak kutipan-kutipan liar di jalan, Amir tetap tegar membawa pepaya hasil kebunnya ke Jakarta. Dengan pengiriman dua hingga tiga kali seminggu ke Jakarta, Amir yakin usahanya akan terus berkembang meski hasilnya tidak selalu menutupi biaya produksi. “Soal tekor itu biasa. Tapi saya selalu berusaha. Coba saya tahu bisnis ini sejak dulu saat masih muda dan modal tidak jadi kendala. Pasti sekarang saya sudah kaya,” tutup Amir optimis. (yst)

Memanjakan Konsumen adalah Kuncinya


Buah produksi dalam negeri atau yang lebih sering disebut buah lokal memang terkesan kalah dibanding buah impor. Setidaknya hal itu terlihat di rak-rak yang menjajakan buah di supermarket hampir di seluruh Indonesia. Namun, beberapa tahun belakangan ini pemerintah, pengusaha, akademisi hingga petani buah terlihat berusaha cukup keras untuk “menghidupkan” kembali buah lokal di pasaran.

Sejak tahun 2000-an buah lokal terlihat mulai menggeliat menunjukkan keberadaannya di pasaran buah dalam negeri maupun luar negeri. Pada beberapa macam komoditas seperti manggis, nanas, dan pisang angka ekspornya selalu menembus nilai satu juta dolar AS. Di pasar lokal, buah-buah “kampung” seperti belimbing, jambu biji, pepaya, hingga rambutan mulai mudah dijumpai di supermarket besar sekalipun. Tren memang mengarah ke kembali menyukai buah lokal.

Isu-isu tentang buah yang disuntik zat kimia, penggunaan petisida berlebih, hingga pemanis buatan membuat konsumen melirik kembali buah lokal yang dari penampilan memang terlihat lebih kuyu. Kemudian muncullah tren mengonsumsi buah organik. Konsumen pun memaklumi jika buah-buahan hasil perkebunan dalam negeri terlihat tidak semontok penampilan buah impor dari China, Australia, Thailan, atau Amerika Serikat.

Pertanda membaiknya penjualan buah lokal di pasaran ini tidak didiamkan saja oleh pihak terkait seperti Departemen Pertanian (Deptan), eksportir buah, dan para petani buah perorangan maupun berkelompok. “Pihak kami saat ini sedang melakukan berbagai program yang intinya ingin meningkatkan jumlah dan mutu buah lokal yang dihasilkan para petani di seluruh Indonesia,” ujar Direktur Budidaya Tanaman Buah Deptan, Ir Winny Dian Wibawa MSc.

Saat ini deptan, menurut Winny, sedang melakukan program regristasi kebun. Kebun-kebun buah yang ada di Indonesia dicatat lokasinya, luas lahan, produknya, watu penanaman, waktu panen, hingga daerah penjualan. Menurut Winny, nantinya setelah kebun-kebun itu dicatat akan diberikan nomor regristrasi. Pencatatan itu pun berlaku untuk para suplier buah.

Menanggapi program deptan itu, Prof Simon B Widjanarko, pakar buah-buah tropikal dari Universitas Brawijaya, Malang, mempertanyakan kelanjutan program pencatatan kebun itu. “Maybe program itu akan berhasil. Tapi yang perlu ditegaskan pengertian regristasi perkebunan itu apa? Kalau registrasi perkebunan itu hanya mendata saja, tidak ada program lanjutan dari deptan untuk menolong petani sama saja bohong,” ujar Simon yang sejak tahun 1990 sudah melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan buah lokal.

Winny tampaknya telah memikirkan kekhawatiran seperti yang ditakutkan Simon. Maka ia bersama jajarannya pun menyatakan tidak berhenti sampai pada tahap pencatatan saja. Dikatakan Winny, konsekuensi dari program regristasi kebun ini adalah perkebunan buah akan dibina oleh deptan dalam hal teknologi pertaniannya maupun pengembangan usaha.

Masih menurut Winny, regristrasi perkebunan itu nantinya akan mampu melihat perkebunan mana yang kualitas dan kuantitasnya bagus. Kalau ditemukan perkebunan yang masih buruk hasil produksinya, deptan akan melakukan pendampingan. Pengelola kebun akan diingatkan pentingnya prinsip-prinsip perkebunan seperti pengendalian hama terpadu dengan memerhatikan penggunaan pestisida. “Registrasi perkebunan nantinya menjamin kualitas buah dari satu perkebunan tertentu bagus. Rasa buah di pasaran akan seragam seperti yang ditemukan pada buah impor,” papar Winny.

Meski program registrasi perkebunan punya program tindak lanjut, Simon mengingatkan bahwa di Indonesia program registrasi agak sulit dilakukan. Hal itu dikarenakan perkebunan buah di Indonesia sangat sedikit atau terkonsentrasi di daerah tertentu. “Buah mangga misalnya hanya banyak dijumpai di perkebunan di Gresik dan Probolinggo. Yang banyak justru mangga di pekarangan rumah-rumah penduduk yang kualitasnya beragam. Kalau begitu tentu sulit meregistrasinya, apa pula yang mau diregistrasi?” tutur Simon.

Simon menyarankan, agar pemerintah membentuk koperasi yang kuat terlebih dulu. Namun, Simon mengingatkan bukan koperasi seperti Koperasi Unit Desa (KUD) saat ini yang sistemnya tidak berjalan baik. Ia berharap bentukan koperasi bagi petani buah itu mempekerjakan kaum profesional yang sesuai dengan bidangnya, sistem penggajian yang jelas dan layak, dan jobdeskription yang jelas bagi pekerjanya. Kita pun harus fokus pada beberapa komoditi unggulan saja seperti mangga, manggis, dan salak. Program pemasaran lokal dan impor pun disusun dengan jelas dengan memerhatikan standar kualitas dan harga jual.”

Peran koperasi itu nantinya akan menguntungkan petani. Dipaparkan Simon, buah yang dihasilkan petani sebaiknya dijuak ke koperasi ini, jangan ke pedagang besar. Kalau dijual ke pedagang, harga pasti akan dipermainkan. Koperasilah yang bertugas agar harga selalu menguntungkan petani.

Kreativitas

Mengandalkan upaya pemerintah untuk seratus persen mendongkrak buah lokal memang sulit. Kemandirian dan kreativitas petani selaku ujung tombak penentu hidup-matinya buah lokal sangat diharapkan.

Dr Ir Neni Rostini Ms, dosen pertanian dari Universitas Padjajaran menyarankan agar petani memerhatikan perlakuan buah ketika pascapanen. Neni meyakinkan bahwa pada dasarnya buah-buahan kita lebih bergizi dibanding buah-buahan impor. Hanya saja perlakuan pascapanen pada buah lokal tidak se-wah buah impor. “Pascapanen buah harus diperhatikan benar. Intinya kita harus memanjakan konsumen,” ujar Neni.

Cara memanjakan konsumen, menurut Neni, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pemberian cap atau label merek perkebunan adalah salah satu cara. Dengan dicap atau diberi label konsumen akan mengetahui asal perkebunan buah yang ia beli. Namun, tentu itu harus dibarengi dengan kualitas yang prima sehingga ketika konsumen ingin membeli buah yang dicari pasti buah bermerek tersebut.

Pemberian label merek perkebunan yang diusulkan Neni sejalan dengan program registrasi yang diutarakan Winny. Dari program registrasi perkebunan, diungkapkan Winny, perkebunan akan memiliki nomor registrasi yang dicantumkan di label merek perkebunan. Neni dan Winny sepakat bahwa cara ini akan memuaskan konsumen buah-buahan dengan jaminan kualitas pada buah yang dibeli dengan merek tertentu.

Selain pemberian label merek, Neni juga menyarankan agar para petani lewat kelompok usahanya atau perorangan membuat brosur pada kemasan buah. Di dalam brosur itu dapat diinformasikan nilai kandungan gizi buah misalnya. Masalah pengemasan buah juga ditekankan Neni penting untuk diperhatikan. Dengan kemasan yang lebih rapi dan bersih akan menambah nilai jual buah itu.

Winny memaparkan, saat ini beberapa petani buah kita sudah mulai menyadari bahwa kemasan yang baik dan menarik mampu meningkatkan harga jual dan jumlah penjualan buah. “Petani buah kita sekarang lewat kelompok tani maupun perorangan sudah mulai berinovasi dalam pengemasan. Mereka membuat kemasan sendiri seperti mangga dan jeruk diberi dus khusus kemudian mereka tempelkan nama perkebunannya,” tandas Winny. (yst)

Yang Kini Perlahan Menghilang

Pernah dengar buah menteng, kemang, gandaria, bisbul, jamblang dan lobi-lobi? Mungkin sebagian dari kita sudah jarang melihat buah-buah asli nusantara itu. Atau bahkan sebagian lagi tak pernah tahu ada buah bernama seperti itu.

Buah-buahan yang disebut tadi memang sudah jarang sekali ditemui di pasar-pasar buah. Keberadaannya sulit dijumpai bahkan di pasar tradisional sekalipun. Kalaupun ada pastilah jumlahnya sangat sedikit dan penjualnya pun mendapatkannya dari kebun sendiri.

Hal itu pun dialami oleh Imran, 35, seorang karyawan swasta. Saat ia sedang berkunjung di salah satu lembaga pemerintah di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, tak dinyana ia menemukan buah kegemarannya sewaktu kecil di kampung dulu : Jamblang. Buah yang bernama lain duwet itu dijajakan oleh pria tua dengan keranjang yang dipikulnya. Karena rindu dengan buah itu dan takut tak dapat bertemu lagi, akhirnya Imran membeli jamblang atau duwet itu dalam jumlah banyak.

Imran pun tak menikmati sendiri buah jamblang yang ditemukannya tidak sengaja di depan kantor lembaga pemerintahan itu. Ia kemudian membagi-bagikannya kepada teman-teman kantornya. Dan sudah dapat ditebak, hampir sebagian besar temannya di kantor tidak mengetahui buah yang rasanya asam-asam manis itu.


Jamblang atau bernama latin Syzygium cumini biasa dimakan segar. Buah jamblang yang sudah masak berwarna ungu hingga hitam dan untuk memakannya biasanya dicocol dengan sedikit garam dan gula. Ada juga yang memakannya setelah jamblang dikocok dalam suatu wadah yang berisi gula dan garam agar lebih lunak dagingnya dan berkurang rasa sepatnya. Buah ini kaya vitamin A dan C dan sangat potensial untuk dijadikan dijadikan sari buah, jeli atau anggur. Di Filipina anggur dari jamblang diusahakan secara komersial.

Itu hanya satu jenis buah yang keberadaanya tidak familiar di tengah-tengah masyarakat Indonesia masa kini. Masih banyak deretan buah lokal yang hidup segan matipun tak mau. Padahal buah-buahan itu memiliki nilai gizi yang tinggi dan tak kalah dibanding buah lain. Berikut buah-buahan asli yang sudah jarang ditemukan di pasaran buah lokal.

Menteng (Baccaurea racemosa)
Buah ini rasanya asam-asam manis dengan daging buah yang sangat sedikit karena “kalah” dengan bijinya yang besar. Sepintas buah ini mirip dengan kelengkeng, bulat-bulat, namun kulitnya lebih mulus. Buah ini banyak terdapat di Bogor dan sekitarnya. Di Jawa Tengah, menteng disebut dengan mundung.

Menteng dulu biasa ditanam di pekarangan rumah warga namun sekarang sudah sulit ditemui akibat desakan penduduk dan penanaman tanaman buah lain yang lebih disukai. Buah asli Pulau Jawa ini masih bisa dijumpai di daerah pinggiran Jakarta dan Bogor pada musim-musim tertentu.

Kemang (Mangifera caesia)
Buah kemang sekilas mirip dengan mangga. Saat buah ini matang warna kulitnya akan berubah menjadi kuning kecoklat-coklatan. Buah ini mengeluarkan aroma seperti terpentin, yaitu bahan pencair cat yang terbuat dari pinus. Daging buah kemang berwarna kuning dan mengandung banyak cairan. Buah yang masak rasanya asam-manis dan dapat langsung dimakan setelah dikupas tentunya. Sama seperti mangga, buah kemang yang mengkal biasanya dimakan untuk campuran rujak.

Kemang menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Namun, ada pula yang membudidayakannya di daerah Jawa bagian barat, terutama dekat Bogor. Kemang dapat tumbuh pada daerah dataran rendah yakni pada ketinggian di bawah 400 meter hingga 800 meter di bawah permukaan laut. Lokasi di pinggiran sungai merupakan tempat yang paling disenangi tumbuhan ini.


Kecapi (Sandoricum koetjape)
Kecapi, sentul atau ketuat adalah nama buah ini. Buah yang untuk membukanya seringkali menggunakan pintu rumah untuk menjepit kulitnya ini diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya. Buah yang satu ini memang bukan asli Indonesia meski telah berabad-abad berada di Indonesia. Tumbuhan ini menurut sejarahnya dibawa dan dimasukkan ke Indonesia tepatnya di Borneo, Maluku oleh para pedagang asal Indocina.

.
Buah kecapi ini rasanya manis namun agak asam. Kulit buahnya tebal dengan daging buah berwarna putih berserat. Di dalam buah kecapi biasanya terdapat tiga atau dua biji buah yang ukurannya berbeda-beda. Daging buahnya sedikit karena bijinya lebih besar. Untuk memakannya kita hanya bisa mengulumnya hingga rasanya habis dan dagingnya menyusut. (yst)

Go Internasional, Buah Lokal!

Jejeran toko buah di kaki lima Rawamangun itu tampak benderang di malam hari, menarik langkah untuk menghampirinya. Warna-warna mencolok buah-buahan yang dipajang menarik hati. Setelah dekat dan menyapu pandang ke seluruh bagian toko, buah-buahan dengan label bernama asing terlihat mendominasi.

Buah-buahan impor seperti Pir, Apel Fuji, Jeruk Mandarin bahkan Kiwi kini dapat dengan mudah ditemui di kios-kios buah pinggir jalan. Tidak hanya toko buah kaki lima di kota besar seperti Jakarta yang kini menjajakan berbagai buah impor. Lihat saja toko buah kaki lima di kota-kota kecil macam Wonosari, Tasikmalaya, dan Pematang Siantar juga telah menjajakan buah-buah impor.

Hal yang sama juga terlihat di supermarket. Buah-buahan impor dari apel, jeruk, hingga durian berasal dari luar negeri. Kalaupun buah lokal ada di toko buah kaki lima maupun di supermarket, jumlahnya tidak sebanding dengan buah impor.

Banyak alasan mengapa buah impor terlihat lebih mendominasi di pasar buah-buahan negara ini. Misalkan saja seperti pengakuan Vani, 22, warga Grogol. “Saya suka jeruk Mandarin dan jeruk Baby dari China dibanding jeruk lokal macam jeruk Medan. Rasanya lebih manis dan harganya tidak terlalu mahal,” ujarnya.

Pernyataan Vani pun disetujui oleh Husni Thamrin, 28, pedagang buah di kios pinggir jalan di bilangan Rawamangun. Menurut Husni harga buah lokal dan impor sekarang memang tidak terlalu jauh bedanya. Pedagang yang sudah berjualan buah sejak tahun 1994 itu mengatakan untuk jeruk mandarin pada musim puncaknya harganya bisa turun samapai 5.000 rupiah per kilogram. “Kalau lagi musimnya jeruk Mandarin harga bisa turun banget sampai 5.000 sedangkan jeruk Medan harganya bisa 10.000 sampai 17.000. Makanya pembeli lebih pilih jeruk Mandarin,” ujar Husni.

Baik Husni maupun Vani pun menjelaskan, alasan lain mengapa buah impor lebih digemari oleh pembeli. Mereka mengatakan rasa buah impor lebih menjanjikan. Maksudnya, jika kita membeli jeruk satu kilogram, dijamin rasa seluruh jeruk itu merata, manis semua. Sedangkan pada jeruk lokal, dalam satu kilogram jeruk rasanya bisa berbeda-beda, ada yang manis, ada yang tidak. “Kalau beli buah impor rasanya merata, tidak kecele,” tegas Vani.

Dominasi buah impor di pasar buah kita dipandang berbeda oleh Direktur Budidaya Tanaman Buah Departemen Pertanian, Ir Winny Dian Wibawa MSc. Ia menganggap kalau melihat di supermarket betul dominasi buah impor, yaitu sekitar 60 sampai 70 persen didominasi buah impor. Namun, jika dilihat secara keseluruhan produksi buah lokal, menurut Winny, meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Winny mengatakan. Jumlah produksi buah lokal saat ini berkisar 17 ribu ton per tahun.

Winny menambahkan, beberapa tahun terakhir ini minat masyarakat untuk mengonsumsi buah lokal pun meningkat. Jika tadinya buah-buah lokal seperti belimbing, jambu biji, dan jambu air tidak akan dijumpai di toko buah lokal, kini di supermarket pun akan dengan mudah buah-buah ndeso itu dijumpai. Menurut Winny, tren masyarakat kita saat ini sedang kembali mencintai buah lokal.

Pernyataan yang sama juga diamini oleh Husni yang kerap menggelar dagangannya sejak pukul 13.00. “Trennya sejak tahun 2004 ke sini itu pembeli mencari buah-buah lokal. Terlebih untuk pembeli gulongan atas, mereka malah mencarinya buah lokal. Kalau yang sedang-sedang, beranjak kaya, baru cari buah impor,” ucap Husni sambil terkekeh.

Dukungan Pemerintah

Menanggapi soal kualitas buah lokal yang kalah dibanding buah impor, Winny dengan berat hati mengakuinya. “Buah kita memang dari sisi kualitas belum mampu bersaing dengan buah impor. Perkebunan di luar itu sudah dikelola dengan sangat rapi dan merupakan perkebunan besar,” ujar Winny.

Hal serupa juga dinyatakan Prof Simon B Widjanarko, pakar buah-buah tropikal dari Universitas Brawijaya, Malang. Simon yang telah lama bergelut di bidang agribisnis mengakui bahwa buah lokal tidak bisa dibandingkan dengan buah impor. Dari skala produksi, menurut Simon, buah impor lebih besar. Ia memberi contoh, kebun apel monokultur di Australia dikelola dengan padat modal, padat teknologi, infrastruktur, dan koperasi yang jauh lebih kuat. Sistem koperasi di Australia dikatakan Simon sudah sangat solid bahkan bisa menggaji seorang Doktor dan dua orang lulusan S1. “Tenaga Doktor dan dua lulusan S1 itu fulltime mengurusi perkebunan sejak panen sampai pascapanen. Maka tak heran hasilnya berupa adanya keseragaman kualitas produk dan harga produk yang jauh lebih bersaing dari produk kita,” ujar Simon.

Memang benar, buah-buahan impor, khususnya dari Thailand dan China saat ini kualitas dan kuantitasnya jauh lebih baik dibanding Indonesia karena tatakelola perkebunannya yang sudah maju. Negeri Gajah Putih, Thailand, memulai perkembangan perkebunan mereka dari tahap pengadaan pusat penelitian, kebun percobaan hingga adanya kerjasama yang solid antar pakar-pakar terkait.Para pakar bertugas mengumpulkan informasi seperti bentuk, sifat, dan kualitas buah-buahan yang ada untuk menghasilkan bibit-bibit unggul. Sedangkan pemerintah Thailand bertugas untuk mendukung segala program seperti mengirimkan ahli perkebunan untuk belajar dan mengikuti training di pusat penelitian dan pengembangan buah tropis terbesar di dunia, Chantaburi. Setelah itu para ahli tersebut mentransfer ilmu yang didapat ke petani buah di seluruh negeri secara gratis. Selain itu sebagai negara produsen buah berkaliber internasional, pengelolaan buah diawasi oleh para ahlinya menggunakan teknologi maju, didanai modal besar dengan tujuan untuk memenuhi standardisasi ekspor.

Budi Waluyo, Manajer Operasional PT Agung Mustika Selaras, eksportir manggis, mengatakan sepengetahuan ia selama ini pemerintah memang kurang memproteksi pedagang buah di Indonesia. Ia mengatakan hal itu karena ia melihat bea masuk untuk buah-buahan impor dirasa masih sangat murah. Maka tak heran jika pada musim-musim tertentu buah impor membanjiri pasar Indonesia yang mengakibatkan harganya jauh lebih murah dibanding buah lokal.

Budi yang mengerti seluk beluk penjualan buah di pasar luar negeri menampik tuduhan bahwa semua buah kita mutunya rendah. Khusus manggis yang menjadi garapannya, ia mengatakan kualitasnya lebih tinggi dari manggis Thailand. “Kalau kualitas manggis kita tidak kalah dengan Thailand. Bahkan saya tahu manggis kita sering dilabeli di Thailand lalu dijual di China. Hal itu terjadi karena banyak eksportir dadakan asal Thailand yang turut bermain di sini. Sebisa mungkin pemerintah memproteksi dengan meregristasi gudang-gudang yang ada agar ketahuan mana eksportir teregristasi mana yang dadakan,” urai Budi.

Mungkin benar ucapan Budi tentang tidak semua buah lokal kita kualitasnya lebih rendah dibanding buah impor. Terbukti dengan pemaparan Budi soal “pencurian” manggis oleh pengusaha Thailand. Selain manggis, mangga lokal seperti Arum Manis, Indramayu, Manalagi, dan Golek pun disukai oleh pasar internasional. “Mangga kita itu disukai oleh pasar luar negeri karena mutu dan rasanya yang khas,” ujar Winny.

Ekspor mangga kita memang cukup besar meski angka ekspor dan impor mangga kita hampir sebanding. Tercatat pada tahun 2006, menurut data Departemen Pertanian, sebanyak 930.066 kilogram mangga berhasil di ekspor. Sedangkan angka untuk impor mangga kita di tahun yang sama adalah  948.145 kilogram mangga. Mungkin buah lokal kita yang mampu merajai pasar internasional adalah nanas, manggis, dan pisang. Hal itu terlihat dari tital ekspor yang jauh lebih tinggi disbanding total jumlah impornya, yaitu berturut-turut berjumlah 204.920.547 kilogram nanas, 5.857.407 kilogram manggis, dan 5.280.641 kilogram pisang. Dan jumlah itu semuanya bernilai di atas jutaan dolar AS! Kalau kita mau serius menangani semua jenis buah local kita yang sangat berpotensi, bayangkan pundit-pundi rupiah yang nantinya bisa kita miliki! (yst)

Berguru pada Negara Penemu

Paten bukan barang baru di dunia penelitian dan industri. Sejak abad ke-15, tepatnya di Italia pada 1474 paten telah populer. Saat itu, penemu teknologi berhak memperoleh litterae patentes (sertifikat paten) dan mendapat perlindungan selama 10 tahun. Hal yang sama kemudian diikuti Amerika Serikat pada 1790.

Undang-undang paten modern memang baru mulai diberlakukan sejak disahkannya Konvensi Paris tahun 1883. Konvensi itu tidak hanya memberi perlindungan kepada paten, tetapi juga kepada merk dan desain industri. Pada 1994 – setelah pembentukan World Trade Organization (WTO) serta penandatanganan Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS) – hampir semua negara memiliki peraturan tentang paten, termasuk Indonesia.

Meski banyak yang mengatakan sistem paten merupakan bentuk kapitalisme ternyata negara-negara muslim pun turut mengesahkan peraturan tentang paten. Saudi Arabia memiliki Issued by the Gracious Royal Decree No. M/38 Dated 10/6/1409 H. Sedangkan Mesir melindungi hak paten melalui Law No.82 of 2002 Pertaining to the Protection of Intellectual Property Rights. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak juga telah mengatur paten dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten.

Khusus di negara-negara muslim, permohonan paten memang masih tergolong kecil dibanding negara barat. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi adalah pemahaman peneliti muslim yang menganggap paten haram. Anggapan itu muncul akibat adanya pernyataan dari beberapa ulama yang turut mengatakan bahwa paten adalah haram hukumnya. Terlepas dari itu, saat ini negara-negara Islam sudah menyadari pentingnya paten dengan diberlakukannya UU tentang paten.

Jika kita ingin mencari negara yang maju dalam masalah paten dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) lainnya, Jepang adalah jawabannya. Negara kekaisaran ini telah memiliki peraturan terkait HKI sejak abad ke-19. Dan pada tahun 2002 Perdana Menteri Koizumi mendeklarasikan Jepang sebagai sebuah bangsa yang berbasiskan HKI (Nation based on IP). Selanjutnya Jepang setiap tahun membuat suatu target pencapaian untuk mewujudkan kebijakan tersebut.

Pemerintah Jepang juga berupaya untuk mempromosikan dan mendorong lahirnya banyak inovasi di tengah masyarakat, sekaligus membudayakan entrepreneurship. Masyarakat Jepang dapat menelusuri informasi paten dari berita resmi HKI bernama IPGazette yang berada di kantor HKI Jepang, Japan Patent Office (IPO). Penelusuran pun dapat dilakukan dari luar kantor JPO dengan mengunjungi website JPO. Pendaftaran paten di Jepang pun dapat dilakukan secara online yang persentase penggunanya telah mencapai 97 persen.

Itu baru dari sisi administrasi. Sisi pendidikan, budaya, dan bisnis pun tidak luput dari perhatian JPO. Di lingkup pendidikan, HKI sudah menjadi salah satu mata pelajaran sejak di tingkat Taman Kanak-Kanak pada beberapa sekolah. Anak-anak itu diajarkan untuk membuat karyanya sendiri dan tidak menyalin karya temannya. Hal serupa juga terjadi di tingkat SMA. Para siswa yang tergolong sudah cukup matang diajarkan mengenai cara penelusuran HKI melalui internet dan diajarkan pula tentang pentingnya HKI dalam dunia bisnis. Di beberapa SMA yang dinaungi perguruan tinggi (PT) Jepang, siswanya diajarkan pula teknik penulisan deskripsi paten dalam Summer Course.

Ini jelas berbeda sekali dengan Indonesia. Peneliti di tingkat PT di Indonesia bahkan masih banyak yang belum mengerti penulisan deskripsi paten. Kalaupun ada seminar dan pelatihan yang diadakan pihak Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Depatemen Hukum dan HAM (Ditjen HKI Depkumham), peneliti yang mengikutinya sangat sedikit jumlahnya. “kalau kita adakan pelatihan tentang pembuatan drafting paten bekerja sama dengan PT, peneliti yang hadir hanya sekitar 30 orang,” ungkap Ir Razilu, Direktur Paten Dirjen HKI Departemen Hukum dan HAM (Depkumham).

Hal minor tentang peneliti di PT Indonesia juga diungkapkan Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Ia mengatakan di Indonesia masih ada peneliti yang justru tidak ingin hasil penelitiannya dipatenkan. “Ada juga peneliti di PT kita yang tidak sadar penelitiannya punya potensi bisnis hingga selayaknya dipatenkan,” ungkapnya.

Budaya Invensi

Razilu mengungkapkan, budaya invensi dalam penelitian yang dilakukan para peneliti di PT Indonesia masih minim bila dibandingkan negara lain. Para peneliti sejak awal meneliti memang tidak mengarahkan penelitiannya untuk menemukan hal baru yang dapat digunakan dalam dunia industri. “Peneliti kita tidak mengarah pada invensi. Selain itu tahap awal penelitian seharusnya peneliti kita melakukan penelusuran apakah penelitian dan invensinya telah dilakukan oleh orang lain di negara lain. Mereka biasanya mengklaim penelitian mereka merupakan hal baru, padahal di negara lain sudah ada lebih dulu. Kalau sudah begitu kami tidak bisa mengesahkan patennya,” papar Razilu.

Di Jepang hal itu jarang terjadi. Sebabnya tak lain karena adanya kerja sama antara PT dan dunia industri. Keduanya melakukan riset gabungan yang pada tahun 2006 saja tercatat ada 12.000 kontrak dengan total nilai investasi mencapai puluhan milyar Yen.

Hal semacam itulah yang tidak ada di Indonesia. Industri dan PT berjalan sendiri-sendiri. Tantono Subagyo, Konsultan HKI di PT Syngenta Indonesia mengatakan pihak industri pastilah tidak mau menggunakan invensi yang tidak komersil. Dan memang pada kenyataannya, menurut Tantono, hasil invensi peneliti di PT Indonesia tidak menarik minat dunia industri. Jadi wajar saja jika kerja sama antara dunia industri dan PT jarang terjadi di Indonesia. “kalau dunia industri menjalin kerja sama dengan PT misalnya dengan membiayai paten tentunya dunia industri mengharapkan ada keuntungan dari segi komersialisasi invensi nantinya,” ungkap Tantono.

Untuk menyusul Jepang memang Indonesia belum sanggup. Namun, langkah kecil yang teratur dan beriringan dari berbagai pihak seperti pemerintah, PT, dan pihak industri diperlukan agar kita sampai ke titik yang sama dengan Jepang. Niscaya, Indonesia akan dijuluki sebagai negara inventor layaknya Jepang saat ini. (yst)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.