Ketika si Jago Merah melalap segala yang ada di dekatnya, Pasukan Biru segera membantu. Meski resiko tinggi harus dihadapi, petugas pemadam kebakaran pantang pulang sebelum api padam.
Kebakaran hebat di Depot Pertamina di Plumpang Jakarta Utara pada Minggu (18/1) malam menambah daftar kejadian kebakaran di Indonesia. Tidak hanya masuk dalam daftar kejadian kebakaran biasa, peristiwa kebakaran kali itu tergolong kebakaran besar. Bayangkan saja, sekitar 2.054 kiloliter bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dalam satu tangki berkapasitas 9.731 kiloliter habis terbakar saat itu. Kobaran api bahkan terlihat sampai ke beberapa wilayah di Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat.
Kebakaran yang diawali ledakan hebat sekitar pukul 21.15 WIB itu membesar dengan cepat sehingga menimbulkan kekhawatiran akan meluas ke permukiman warga sekitar. Kekhawatiran yang beralasan mengingat tangki nomor 24 yang terbakar hanya berjarak sekitar 50 meter dengan tangki lainnya. Hal itu pun menimbulkan rumor bahwa kebakaran semacam itu tidak akan padam dalam satu hari atau bahkan empat hari. Wajar memang rumor itu begitu santer berhembus. Pasalnya pada kejadian serupa di beberapa tempat, kobaran api memang baru padam setelah beberapa hari berselang. Namun kali ini tak sampai hitungan 24 jam, api yang ketinggiannya mencapai seratus meter lebih dapat dipadamkan.
Selain kapasitas tangki saat itu tidak terisi penuh, peran besar pasukan biru dalam memadamkan api pun menjadi faktor cepatnya pemadaman api. Para pemadam kebakaran yang identik dengan seragam berwarna biru saat itu terus mendekat ke sumber api meski panas telah terasa dalam jarak satu kilometer.
Pasukan yang memiliki motto “Pantang Pulang Sebelum Padam” itu pada malam kejadian dikabarkan diturunkan sekitar 200 personil dengan dilengkapi 47 unit mobil pemadam kebakaran. Jumlah yang sedikit memang bila mengingat besarnya kobaran api yang melanda. Jumlah personil sebanyak itu akan terasa semakin tidak mencukupi bila melihat besarnya potensi meluasnya kobaran api di Depot Pertamina yang menampung kebutuhan BBM se-Jakarta itu.
Meski api akhirnya bisa dijinakkan, jumlah personil yang tidak sebanding dengan besarnya kebakaran menimbulkan pertanyaan. Mengapa pihak Dinas Pemadam Kebakaran berani mengambil resiko dengan hanya menurunkan personil sebanyak itu. Saat hal itu dikonfirmasi ke Dinas Pemadam Kebakaran Daerah Khusus Ibukota Jakarta, diakui hal itu bukan merupakan kesengajaan. “Saat peristiwa kebakaran Plumpang terjadi, kebetulan di saat yang bersamaan terjadi dua peristiwa kebakaran lain. Jadi personil yang ada di seluruh sudin dipecah ketiga lokasi,” ujar Dr Paimin Napitupulu Msi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta.
Tak Memadai
Pernyataan Paimin tentunya dapat menggambarkan begitu tidak mencukupinya jumlah personil pemadam kebakaran bila dibandingkan dengan luasan wilayah kerja dan potensi kebakaran yang mungkin terjadi. Itu hanya dari personil, belum lagi dari sarana dan prasarana yang mendukung kinerja dinas pemadam kebakaran (DPK).
Dari data DPK DKI Jakarta diketahui bahwa personil untuk wilayah terpadat di Indonesia ini hanya berjumlah 2351 orang. Jumlah itu pun dibagi menjadi lima suku dinas, kantor dinas, dan pusat latihan kebakaran (puslatkar). Jumlah itu pun dibagi lagi untuk jenis tugas dan kepangkatannya. Artinya, dari 2351 orang tidak semuanya saat kebakaran terjadi dapat diterjunkan ke lokasi.
Untuk inspektur kebakaran, jumlah personil saat ini sebanyak 230 orang yang tersebar di lima suku dinas dan satu kantor dinas. Sedangkan untuk penyelamat di wilayah kerja yang sama jumlahnya sebanyak 159 personil. Sedangkan sisa personil DPK lain ditempatkan pada jenis tugas yang tidak langsung berhubungan dengan kejadian kebakaran. Jumlah ini jelas tidak mencukupi untuk wilayah Jakarta yang kepadatan penduduknya 16.667 per kilometer persegi. “Seharusnya untuk persepuluh ribu penduduk terdapat satu unit pemadam kebakaran yang minimal diisi dengan enam personil. Itu idealnya. Jadi kalau dihitung-hitung dengan jumlah penduduk Jakarta seharusnya ada 800 unit pemadam kebakaran,” ungkap Kepala Seksi Publikasi dan Dokumentasi Subdis Partisipasi Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Amanudin S Sos.
Jumlah ideal itu masih jauh dari kenyataan yang ada. Armada yang dimiliki DPK Jakarta berjumlah tak lebih dari 500 unit yang terbagi menjadi beberapa jenis kendaraan. Untuk mobil pompa jumlah yang laik jalan hanya 122 unit. Mobil tangga bahkan jumlahnya lebih sedikit lagi, yakni hanya 4 unit yang berfungsi baik dari 8 yang tersedia. Jenis-jenis mobil pendukung operasional lainnya pun jumlahnya masih dalam hitungan tak lebih dari 10 unit.
Ketersediaan titik-titik air sebagai sumber pasokan saat terjadi peristiwa kebakaran pun tidak mencukupi. Dijelaskan Amanudin, sumber air yang digunakan DPK terbagi menjadi beberapa sumber, yakni hidran, tandon air, dan tangki air. Pada data resmi yang tercatat di DPK DKI Jakarta terdapat sebanyak 1.075 hidran, 95 tandon air, dan 8 tangkiair di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Meski tercatat dalam jumlah yang terlihat banyak, pada kenyataannya tidak semua hidran berfungsi dengan baik. “Kalau kita lihat hidran air itu banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan-jalan. Tapi itu tidak semuanya berfungsi. Maksudnya bukan juga hidrannya rusak, bisa jadi sumber airnya di bawah tidak ada. Jadi yang keluar ya angin saja,” ujar Paimin.
Lebih lanjut paimin mengatakan, hal seperti ketiadaan air di hidran-hidran itu dapat terjadi karena saluran air hidran selama ini masih sama dengan saluran air PAM yang diperuntukkan bagi warga. Ia mengatakan menjadi wajar saja bila saat warga memakai air dalam jumlah banyak, debit air yang keluar untuk memadamkan api jadi tidak mencukupi. Paimin beserta jajarannya sampai saat ini pun masih mengusahakan agar sumber air DPK dan warga nantinya dipisahkan guna memudahkan proses kerja mereka.
Kesadaran Kurang
Jumlah yang tidak mencukupi memang bila kita melihat frekuensi kebakaran di DKI. Menurut DPK DKI Jakarta, frekuensi kebakaran sepanjang 2008 di wilayah ini terjadi sebanyak 819 kejadian. Wilayah Jakarta Pusat merupakan wilayah yang paling sedikit angka kejadian kebakarannya, yaitu hanya 110 kejadian. Sedangkan wilayah Jakarta Selatan merupakan wilayah yang paling tinggi angka kejadian kebakarannya, yaitu 204 kejadian.
Perbedaan angka kejadian itu dijelaskan Amanudin berkaitan dengan banyak hal. Wilayah yang padat penduduknya seperti di Jakarta Slatan, Timur, dan Utara memang rentan dengan kebakaran. Sedangkan wilayah Jakarta Pusat yang relatif lebih tertata kawasannya dan banyak bangunan yang diperuntukkan bukan untuk tempat tinggal menyebabkan angka kejadian kebakarannya sedikit disbanding wilayah lain.
Kesadaran masyarakat akan keselamatan dan pencegahan kebakaran juga dinilai sebagai faktor yang memperkecil jumlah angka kejadian kebakaran di suatu wilayah. Masyarakat dengan tingkat pendidikan tinggi dan tingkat kemampuan ekonomi mencukupi memang lebih sadar akan bahaya kebakaran. Setidaknya mereka mampu menyediakan tabung pemadam kebakaran darurat.
“Bukankah lebih baik kalau kita mencegah kebakaran itu sebelum terjadi. Hal itu mungkin terjadi kalau masyarakat membantu kerja DPK. Maka tugas kami pun tidak hanya meliputi memadamkan kebakaran. Pencegahan kebakaran dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan bahaya kebakaran dan antisipasinya justru menjadi tugas utama kami. Hal itu jelas dicantumkan di Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) DPK,” jelas Paimin lagi.
Sering pula para personil pemadam kebakaran mendapat cacian ketika beraksi memadamkan api. Mereka sering dinilai terlambat sampai di lokasi kebakaran sehingga api sudah menjalar ke bangunan lain. Menanggapi hal itu, baik Paimin maupun personil pemadam kebakaran lainnya langsung menyunggingkan senyum maklum. Mereka paham warga atau siapapun yang kala itu menjadi korban kebakaran pasti ingin harta bendanya terselamatkan dengan segera dari jilatan api. Namun, perlu dipahami pula bahwa pemadam kebakaran sudah berusaha semaksimal mungkin memadamkan api ketika kebakaran melanda.
“Waktu respon time kita itu maksimal 15 menit. Tapi kalau masyarakat tidak membantu dengan misalkan memberikan jalan kepada mobil pemadam kebakaran yang lewat tentu saja itu sulit dicapai. Apa lagi kalau warga berkerumun hingga menghalangi personil mendekat ke lokasi kebakaran. Bantuan dari masyarakat itu tidak usah yang sulit-sulit cukup dengan memberi informasi tentang di mana lokasi titik air terdekat misalnya,” ujar Paimin yang mewakili personil pemadam kebakaran lain.
Keberhasilan dalam peristiwa kebakaran memang tidak hanya dilihat dari padamnya api atau tidak. Tidak meluasnya kobaran api ke bangunan lain misalnya merupakan indikator keberhasilan pemadaman. Jadi meski bangunan awal sudah tak bersisa, jika api mampu dilokalisasi di satu titik, seperti yang terjadi di Depot Pertamina Plumpang, tentunya ucapan selamat dan terima kasih pantas kita berikan pada Sang Penakluk Api. (yst)
